Jenis penelitian

Jenis penelitian dibagi beberapa kategori, antara lain :
Berdasarkan tujuannya, penelitian dibagi menjadi dua yaitu penelitian murni dan penelitian terapan. Jika penelitian diarahkan untuk mendapatkan informasi yang dapat digunakan untuk memecahkan masalah maka penelitian itu dinamakan penelitian terapan, sedangkan jika penelitian itu diarahkan untuk memahami masalah secara mendalam tanpa ingin menerapkan hasilnya dinamakan penelitian murni.

Berdasarkan metodenya, penelitian dibagi menjadi survey, ex post facto, eksperimen, naturalistic/kualitatif, kebijakan, tindakan, evaluasi dan sejarah

Berdasarkan tingkat ekplanasi dibagi menjadi penelitian deskriptif, (gambaran), asosiatif (hubungan) dan komparatif (perbandingan)

Berdasarkan jenis data, penelitian dibagi menjadi penelitian kuantitatif, kualitatif dan gabungan.

Berikut ini dijelaskan mengenai jenis-jenis penelitian berdasarkan metodenya antara lain :

Penelitian Survey
Kerlinger (dalam Sugiyono, 2007:7) menyatakan bahwa ”penelitian survey adalah penelitian yang dilakukan pada populasi besar/kecil, tetapi data yang dipelajari adalah data sampel yang diambil dari populasi”.

Dengan demikian, penelitian survey umumnya melakukan pengambilan sampel namun dilakukan generalisasi. (data sampel berlaku untuk populasi). Karena itu, teknik dan metode pengambilan sampel merupakan faktor yang sangat penting dalam penelitian survey.
Contohnya : Lembaga Survey XXX melakukan survey tentang ”siapa yang layak menjadi presiden tahun 2014” di wilayah Jakarta. Karena banyaknya penduduk Jakarta, maka tidak mungkin dilakukan survey secara penuh, sehingga dilakukan pengambilan sampel yang representative (mewakili) populasi. Data sampel ini kemudian diharapkan dapat mencerminkan kecenderungan persepsi penduduk secara keseluruhan (berbagai teknik sampling akan dijelaskan kemudian).

Penelitian Ex Post Facto
Merupakan penelitian untuk mengungkap penyebab sebuah peristiwa yang sudah terjadi. Misalnya, penelitian tentang penyebab terjadinya kecelakaan pesawat Adam Air. Penelitian ini kemudian akan melihat kebelakang untuk mengetahui faktor-faktor yang menjadi penyebab kejadian tersebut.

Penelitian Experimen
Penelitian ini dilakukan untuk mencari pengaruh variabel tertentu terhadap variabel lain dalam kondisi yang terkontrol secara ketat.

Ciri utama dari penelitian eksperimen adalah meneliti hubungan sebab akibat, situasi yang terkontrol ketat, dan memunculkan sesuatu agar terjadi.
 
Misalnya penelitian untuk menguji dampak pemutaran musik klasik terhadap prestasi belajar siswa. Artinya ada penyebab (musik klasik) dan akibat (hasil belajar). Situasi yang dikontrol ketat agar akibat (hasil belajar) benar-benar ditimbulkan oleh musik klasik (penyebab) dan bukan karena penyebab lain. Memunculkan suatu terjadi misalnya dengan adanya musik klasik maka akan memunculkan tingginya prestasi belajar siswa.
 
Penelitian Naturalistik
Penelitian naturalistik disebut juga penelitian kualitatif. Artinya, penelitian dilakukan pada kondisi objek alamiah (lawan dari eksperimen yang diciptakan). Peneliti merupakan instrumen kunci, teknik pengumpulan data dilakukan secara gabungan (misalnya wawancara, observasi, angket, dokumantasi, dll), analisis data bersifat induktif, proses lebih penting dari pada hasil, dan lebih menekankan makna dibanding generalisasi.

Contohnya penelitian untuk mengungkap penyebab rendahnya prestasi atlet-atlet Indonesia di kancah Internasional.

Penelitian Tindakan
Merupakan penelitian yang ditujukan untuk menemukan metode yang paling efektif dalam kegiatan sehari-hari di tempat kerja maupun di organisasi lain.

Misalnya penelitian tindakan untuk mencari metode kerja yang paling efisien dalam sebuah pabrik. Penelitian akan melibatkan peneliti dan karyawan untuk mengkaji bersama-sama tentang metode, prosedur kerja dan alat kerja baik mengenai kelebihannya maupun kekurangannya, sehingga akan dicarikan metode dan alat yang lebih tepat. Metode baru ini selanjutnya akan dicoba terus menerus sampai ditemukan metode yang paling efisien.

Penelitian Kebijakan
Merupakan penelitian untuk menyelesaikan permasalahan yang dimiliki umumnya oleh para administrator atau pembuat kebijakan. Hasil penelitian diharapkan dapat menjadi rekomendasi kebijakan yang akan diambil.

Contohnya penelitian untuk menentukan sistem penggajian karyawan, sistem karir dan lain sebagainya.

Penelitian Evaluasi
Merupakan penelitian yang ditujukan untuk membandingkan suatu kejadian, kegiatan atau produk dengan standar dan program yang telah ditetapkan. Kata kunci dari penelitian evaluasi adalah adanya standar pengukuran.

Misalnya evaluasi terhadap proses belajar mengajar harus dibandingkan dengan standar proses belajar mengajar yang dikeluarkan oleh Diknas sehingga penilaian hasil evaluasi akan memperlihatkan di bawah standar, sesuai standar atau jauh di atas standar.

Penelitian Sejarah
Merupakan penelitian untuk mengungkap kejadian-kejadian di masa lalu. Misalnya penelitian tentang sejarah berdirinya kerajaan Demak, penelitian tentang perkembangan peradaban kelompok atau suku bangsa tertentu, dll.


Dirangkum dari :
Sugiyono. 2007. Metode Penelitian Administrasi. Bandung : Alfabeta

Buku lain yang dianjurkan :
Suharsimi Arikunto. 2005. Manajemen Penelitian. Jakarta : Rineka Cipta
Kuncoro, Mudrajad. 2003. Metode Riset untuk Bisnis & Ekonomi. Jakarta: Erlangga.
READ MORE - Jenis penelitian

TUJUAN DAN FUNGSI EVALUASI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM

TUJUAN DAN FUNGSI EVALUASI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM

A. LATAR BELAKANG

Kegiatan belajar mengajar meliputi banyak komponen yang terpadu untuk dapat mencapai tujuan. Bagian dari proses belajar mengajar yang secara keseluruhan tidak dapat dipisahkan dari kegiatan mengajar adalah evaluasi. Kegiatan ini dilakukan oleh guru sebagai pendidik yang bertanggung jawab terhadap kegiatan belajar mengajar baik dilembaga pendidikan formal yaitu sekolah maupun madrasah maupun dilembaga pendidikan nonformal.. Sebagaimana disebutkan dalam Pasal 58 ayat (1) UU RI No. 20 Tahun 2003 tentang Sisdiknas yang menyatakan bahwa evaluasi hasil belajar peserta didik dilakukan oleh pendidik untuk memantau proses, kemajuan dan perbaikan hasil belajar peserta didik secara berkesinambungan.

Secara umum evaluasi diartikan sebagai proses menentukan kondisi, dimana suatu tujuan telah dapat dicapai. “Evaluation is a process which determines the extent to which objectives have been achieved (Cross, 1973:5)”. (Sukardi, 2011:1). Sedangkan Suchman (1961, dalam Anderson 1975) memandang evaluasi sebagai sebuah proses menentukan hasil yang telah dicapai beberapa kegiatan yang direncanakan untuk mendukung tercapainya tujuan. (Suharsimi dan Cepi, 2010:1)

Pengertian tersebut menghubungkan proses evaluasi dengan tujuan yang hendak dicapai. Karenanya sebelum melakukan kegiatan evaluasi, seorang pendidik harus benar-benar mempertimbangkan dahulu fungsi dan tujuan evaluasi ketika merencanakan kegiatan tersebut. Hal ini sangat penting karena tujuan akan menentukan proses dan karakteristik evaluasi yang akan digunakan.



B. RUMUSAN MASALAH

Adapun permasalahan yang akan dibahas dalam makalah ini adalah sebagai berikut:

1. Apakah tujuan evaluasi Pendidikan Agama Islam?

2. Apakah fungsi evaluasi Pendidikan Agama Islam?

C. PEMBAHASAN
Tujuan Evaluasi Pendidikan Agama Islam

Menurut Prof. H. M. Sukardi, MS. Ph.D dalam bukunya yang berjudul Evaluasi Pendidikan Prinsip dan Operasionalnya, setidaknya ada 6 tujuan evaluasi dalam kaitannya dengan belajar mengajar, yaitu :

a. Menilai ketercapaian (attainment) tujuan.

b. Mengukur macam-macam aspek belajar yang bervariasi.

c. Sebagai sarana (means) untuk mengetahui apa yang siswa telah ketahui.

d. Memotivasi belajar siswa.

e. Menyediakan informasi untuk tujuan bimbingan dan konseling.

f. Menjadikan hasil evaluasi sebagai dasar perubahan kurikulum. (Sukardi, 2011: 9-11)

Sedangkan menurut Anas Sudijono dalam bukunya, “Pengantar Evaluasi Pendidikan” menyatakan bahwa tujuan evaluasi dalam bidang pendidikan yaitu:

a. Untuk memperolah data yang akan menjadi petunjuk sampai dimana tingkat kemampuan dan tingkat keberhasilan peserta didik dalam mencapai tujuan pembelajaran dalam jangka waktu tertentu.

b. Untuk mengetahui tingkat efektifitas dari metode-metode pengajaran yang telah dipergunakan dalam proses pembelajaran selama jangka waktu tertentu. Sehingga dapat diketahui sampai dimanakah efektivitas mengajar dan metode-metode pengajaran yang diterapkan.

c. Untuk merangsang kegiatan peserta didik dalam menempuh program pendidikan.

d. Untuk mencari dan menemukan faktor-faktor penyebab keberhasilan dan ketidakberhasilan peserta didik dalam mengikuti program pendidikan, sehingga dapat dicari dan ditemukan jalan keluar dan cara-cara perbaikannya. (Anas Sudijono, 2005:16-17)

Dalam pendidikan Islam, tujuan evaluasi lebih ditekankan pada penguasaan sikap (afektif dan psikomotor) ketimbang aspek kognitif. Penekanan ini bertujuan untuk mengetahui kemampuan peserta didik yang meliputi sikap dan pengalaman terhadap hubungan pribadinya dengan Tuhannya, terhadap arti hubungan dirinya dengan masyarakat, terhadap arti hubungan kehidupannya dengan alam sekitarnya, serta sikap dan pandangan terhadap diri sendiri selaku hamba Allah, anggota masyarakat, serta khalifah Allah SWT. (http://id.scribd.com/doc/21624457/EVALUASI-PENDIDIKAN-ISLAM )


Fungsi Evaluasi Pendidikan Agama Islam.

Pendidikan Agama Islam merupakan bagian atau sub sistem dari Pendidikan Nasional. Karenanya fungsi evaluasi dalam Pendidikan Agama Islam tak dapat dilepaskan dari fungsi evaluasi pendidikan secara umum, yaitu:

a. Menurut Anas Sudijono dalam bukunya yang berjudul Pengantar Evaluasi Pendidikan, evaluasi pendidikan memiliki fungsi:

1) Secara umum,

a) Mengukur kemajuan

b) Penunjang penyusunan rencana

c) Memperbaiki atau melakukan penyempurnaan kembali. (Anas Sudijono, 2005:8)

2) Secara khusus

a) Segi psikologis, kegiatan evaluasi dalam dunia pendidikan disekolah dapat disoroti dari 2 sisi, yaitu sisi peserta didik dan dari sisi pendidik.

(1) Bagi peserta didik, evaluasi pendidikan secara psikologis akan memberikan pedoman atau pegangan batin kepada mereka untuk mengenal kapasitas dan status dirinya masing-masing ditengah-tengah kelompok atau kelasnya.

(2) Bagi pendidik, evaluasi pendidikan akan memberikan kapasitas atau ketepatan hati kepada diri pendidik tersebut, sudah sejauh manakah kiranya hasil dari usaha yang telah dilakukannya selama ini, sehingga ia secara psikologis memiliki pedoman guna menentukan langkah-langkah apa saja yang perlu dilakukan selanjutnya.

b) Segi didaktik.

(1) Bagi peserta didik, evaluasi pendidikan secara didaktik (khususnya evaluasi hasil belajar) akan dapat memberikan dorongan (motivasi) kepada mereka untuk dapat memperbaiki, meningkatkan, dan mempertahankan prestasinya.

(2) Bagi pendidik, evaluasi pendidikan secara didaktik itu setidak-tidaknya memiliki 5 macam fungsi, yaitu:

(a) Memberikan landasan untuk menilai hasil usaha (prestasi) yang telah dicapai oleh peserta didiknya.

(b) Memberikan informasi yang sangat berguna, guna mengetahui posisi masing-masing peserta didik di tengah-tengah kelompoknya.

(c) Memberikan bahan yang penting untuk memilih dan kemudian menetapkan status peserta didik.

(d) Memberikan pedoman untuk mencari dan menemukan jalan keluar bagi peserta didik yang memang memerlukannya.

(e) Memberikan petunjuk tentang sejauh manakah program pengajaran yang telah ditentukan dapat dicapai.

c) Segi administratif, evaluasi pendidikan setidak-tidaknya memiliki 3 macam fungsi:

(1) Memberikan laporan mengenai kemajuan dan perkembangan peserta didik setelah mereka mengikuti proses pembelajaran dalam jangka waktu tertentu.

(2) Memberikan bahan-bahan keterangan (data) untuk keperluan pengambilan keputusan pendidikan dan lembaga pendidikan.

(3) Memberikan gambaran tentang kualitas hasil belajar peserta didik. (Anas Sudijono, 2005: 10-15)

b. Menurut Suharsimi Arikunto dalam bukunya yang berjudul “Dasar-dasar Evaluasi Pendidikan: Edisi Revisi”, bahwa penilaian memiliki berbagai fungsi, yaitu:

1) Penilaian berfungsi selektif, misalnya untuk memilih siswa yang dapat diterima disekolah tertentu, siswa yang dapat naik kelas atau naik tingkat berikutnya, siswa yang layak mendapat beasiswa dan sebagainya.

2) Penilaian berfungsi diagnostik, yaiu untuk mengetahui kebaikan dan kelemahannya.

3) Penilaian berfungsi sebagai penempatan, yaitu untuk menentukan dengan pasti dikelompok mana seorang siswa harus ditempatkan.

4) Penilaian berfungsi sebagai pengukur keberhasilan, yaitu untuk mengetahui sejauh mana suatu program berhasil diterapkan. (Suharsimi Arikunto, 2005:10-11)

Selain memiliki fungsi selektif, dasar penempatan dan diagnostik, evaluasi pendidikan juga dapat berfungsi sebagai umpan balik, menumbuhkan motivasi belajar dan mengajar, sebagai dasar yang kuat bagi perbaikan kurikulum dan program pendidikan, serta berperan dalam pengembangan ilmu. (Eko Putro Widoyoko, 2009:33-36)

Dari fungsi-fungsi tersebut, maka jelas bahwa evaluasi memiliki arti penting bagi banyak pihak. Evaluasi pendidikan memiliki fungsi bagi peserta didik, pendidik, sekolah, orangtua maupun masyarakat sebagai pemakai jasa pendidikan.

a. Bagi pendidik evaluasi berfungsi sebagai alat untuk mengetahui sejauh mana siswa mencapai tujuan pembelajaran dan mengambil keputusan-keputusan apakah metode yang digunakan untuk mengajar itu cocok atau tidak.

b. Bagi sekolah evaluasi berfungsi sebagai alat untuk mengukur hasil pendidikan, untuk mengetahui kemajuan dan kemunduran sekolah, untuk membuat keputusan pada peserta didik, untuk mengadakan perbaikan kurikulum.

c. Bagi siswa evaluasi berfungsi untuk mengetahui kemampuan dan hasil belajar, untuk memperbaiki cara belajar, untuk menumbuhkan motivasi belajar.

d. Bagi orang tua, fungsi evaluasi adalah untuk mengetahui hasil belajar anaknya, meningkatkan pengawasan dan bimbingan serta bantuan pada anaknya dalam usaha belajar, untuk mengarahkan pemilihan jurusan atau jenis sekolah bagi anaknya.

e. Bagi masyarakat dan pemakai jasa pendidikan, evaluasi berfungsi untuk mengadakan kritik dan saran perbaikan kurikulum serta meningkatkan peran serta masyarakat dalam meningkatkan usaha-usaha sekolah.

SIMPULAN

Evaluasi sebagai bagian dari rangkaian proses pendidikan dilaksanakan untuk berbagai tujuan. Diantara tujuan dilaksanakannya evaluasi pendidikan adalah untuk mengetahui kemajuan belajar peserta didik, mengetahui tingkat efisiensi metode pendidikan, memperbaiki dan meningkatkan prestasi peserta didik, mencari dan menemukan faktor penyebab berhasil/tidaknya pendidikan serta untuk meningkatkan kemampuan professional pendidik.

Evaluasi pendidikan memiliki fungsi bagi peserta didik, pendidik, sekolah, orangtua maupun masyarakat sebagai pemakai jasa pendidikan. Selain memiliki fungsi selektif, dasar penempatan dan diagnostik, evaluasi pendidikan juga berfungsi sebagai umpan balik, menumbuhkan motivasi belajar dan mengajar, sebagai dasar yang kuat bagi perbaikan kurikulum dan program pendidikan, serta berperan dalam pengembangan ilmu.

Daftar Pustaka

Arikunto, Suharsimi. 2005. Dasar-dasar Evaluasi Pendidikan Edisi Revisi. Jakarta: Bumi Aksara

Arikunto, Suharsimi., Abdul Jabar, Safruddin. 2010. Evaluasi Program Pendidikan. Jakarta: Bumi Aksara

Sudijono, Anas. 2005. Pengantar Evaluasi Pendidikan. Jakarta: PT RajaGrafindo Persada

Sukardi. 2011. Evaluasi Pendidikan : Prinsip dan Operasionalnya. Jakarta: Bumi Aksara

Widoyoko, Eko Putro. 2009. Evaluasi Program Pembelajaran. Yogyakarta: Pustaka Pelajar

http://id.scribd.com/doc/21624457/EVALUASI-PENDIDIKAN-ISLAM yang diakses tanggal 23 Maret 2013.
READ MORE - TUJUAN DAN FUNGSI EVALUASI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM

CARA MEMBANGUN KARAKTER JUJUR PADA ANAK DIDIK

CARA MEMBANGUN KARAKTER JUJUR PADA ANAK DIDIK

Salah satu yang menjadi masalah di negri ini, yang sulit dicari kebenaran dan solusinya adalah tentang ketidakjujuran. Banyaknya kasus korupsi, penipuan, penggelapan uang, dan kasus kriminal lainnya didominasi oleh ketidakjujuran. Jangan sampai anak didik kita terjebak dalam kasus-kasus tersebut. Untuk itu pendidikan karakter jujur harus ditanamkan sejak dini, baik di lingkungan keluarga maupun sekolah, agar anak menjadi generasi penerus yang berguna bagi nusa dan bangsa.

1. Pengertian Karakter Jujur

Kata “character” dalam Bahasa Inggris berarti “sifat” dalam Bahasa Indonesia. Kata “sifat” dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia memiliki banyak padanan kata, antara lain: perangai, watak, tabiat, dan akhlak. Secara singkat, karakter dapat diartikan sebagai sifat batin manusia yang mempengaruhi segenap pikiran dan tingkah laku.

Sedangkan pengertian “jujur” dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia memiliki arti lurus hati, tidak curang. Maka dapat disimpulkan bahwa siswa yang memiliki karakter jujur adalah siswa yang batinnya cenderung lurus atau tidak curang sehingga mempengaruhi pikirannya (akalnya) untuk selalu mencari cara berbuat jujur yang kemudian diwujudkan dalam sikap dan tingkah lakunya baik terhadap dirinya maupun terhadap lingkungannya. Kecenderungan siswa yang memiliki karakter jujur akan berusaha untuk berbuat jujur, bahkan bisa jadi mencegah orang lain berbuat tidak jujur, atau cenderung mengkritik atau membenci teman atau lingkungannya yang tidak jujur. Ada 3 tingkatan kejujuran dikutib dari http://gagasanhukum.wordpress.com/2011/06/23/ diantaranya:

a. Kejujuran dalam ucapan, yaitu kesesuaian ucapan dengan realiti.

b. Kejujuran dalam perbuatan, yaitu kesesuaian antara ucapan dan perbuatan.

c. Kejujuran dalam niat, yaitu kejujuran tertinggi di mana ucapan dan perbuatan semuanya hanya untuk Allah.

Dalam kehidupan sehari-hari, sering sekali kita melihat bahkan juga ikut terlibat dalam berbagai macam bentuk aktivitas interaksi sosial dimasyarakat. Salah satunya wujud realisasi dari sikap tidak jujur dalam skala yang sangat bervariasi, seperti: orang tua bereaksi spontan saat melihat anaknya terjatuh dan berkata "Oh, tidak apa-apa! Anak pintar, tidak sakit kan? Jangan menangis, ya!". Hal ini secara tidak langsung anak diajarkan dan dilatih kemampuan untuk dapat "berbohong", dengan menutup-nutupi perasaannya (sakit) hanya karena suatu kepentingan (agar tidak menangis).

Contoh lain juga dapat kita lihat pada kegiatan belajar disekolah. Siswa yang duduk dibangku sekolah dasar, sering mengalami kesulitan dalam menerapkan sikap jujur ketika proses belajar berlangsung. Terkadang mereka terlihat bertingkah laku dengan jujur, tapi tanpa kita sadari ketika materi yang diberikan oleh guru bidang studi belum dapat dipahami, mereka menyembunyikan hal itu. Mereka bahkan mengatakan bahwa mereka telah memahami materi tersebut. Hal ini dengan sendirinya akan mengajak mereka untuk berbuat tidak jujur terhadap mata pelajaran yang mereka pelajari.

Jadi, beberapa penyebab anak kecil berbohong adalah:

a. Takut dimarahi atau dihukum karena berbuat salah

b. Melihat kebohongan yang ada disekitarnya (Orang tua,guru,keluarga)

c. Ancaman hukuman bagi kesalahan sang anak



2. Cara Menumbuhkan Sikap Jujur

Segala sesuatu bila dibiasakan, niscaya akan menjadi sebuah kebiasaan. Entah itu yang baik atau pun yang buruk. Membiasakan diri untuk selalu jujur, walaupun dalam hal yang dalam pandangan kita kecil, akan membuat kejujuran menjadi kebiasaan kita. Jangan meremehkan hal yang kecil, sebab sesuatu yang besar bermula dari yang kecil. Terkadang tanpa sadar kita mengajarkan anak untuk berbohong. Ketika siswa ditanya bagaimana kabar mereka, maka mereka akan menjawab baik-baik saja. Siswa yang mengalami sedikit masalah seperti ngantuk saat belajar mengatakan bahwa ia baik-baik saja, padahal ia berkata bohong. Ia merasa takut dan malu untuk mengatakan bahwa ia masih ngantuk untuk menerima mata pelajaran yang akan diberikan. Seorang guru secara tidak langsung membiasakan siswa untuk tidak berkata jujur terhadap apa yang ia rasakan. Sebagai guru kita harus mampu membantu siswa dalam menumbuhkan sikap jujur kepada siswa dengan baik. Caranya sebagai berikut:

Ada orang bijak pernah mengatakan, “anak akan melupakan semua nasehat baik dari orangtuanya, tetapi anak tidak akan pernah lupa dengan perbuatan baik orangtuanya”. Artinya, bahwa perbuatan itu lebih berpengaruh ketimbang perkataan. Oleh karena itu, seorang guru harus bisa menjadi teladan bagi siswanya. Jika seorang guru ingin membangun karakter jujur pada anak didiknya, maka karakter jujur itu harus terbiasa muncul dulu pada guru tersebut. Guru harus bisa memberikan contoh kepada muridnya, misal ketika mengajar di kelas, guru harus jujur pada dirinya sendiri dan juga kepada anak-anak ketika tidak bisa menjawab pertanyaan anak-anak karena guru tersebut belum pernah mempelajari hal yang ditanyakan tersebut. Guru harus berani jujur mengatakan bahwa pernah melakukan kekhilafan dalam mengajarkan suatu konsep, lalu kemudian segera memperbaikinya. Perlu diketahui, jika seorang guru berani jujur mengakui kesalahannya di depan anak-anak didiknya, maka bukan berarti anak-anak didiknya tersebut akan mengurangi rasa hormatnya kepada guru itu, melainkan malah akan bertambah mengagumi kejujuran guru tersebut. Kebiasaan memberikan stimulus kepada anak-anak berupa contoh-contoh sikap yang jujur, akan direspon oleh anak dengan cara meniru kejujuran tersebut.

Keterampilan dan perhatian guru dalam menyelidiki siswa yang tidak jujur juga merupakan syarat bagi seorang guru dalam menanamkan kejujuran pada siswa. Bayangkan saja jika seorang guru mudah ditipu oleh siswanya, tentu saja siswa tidak akan segan-segan mengulangi kembali ketidakjujurannya tersebut. Ini biasanya terjadi kepada guru yang kurang peduli atau kurang memberikan perhatian kepada anak didiknya. Jangankan urusan mengetahui siswanya jujur atau tidak, urusan keseharian si anak saja guru tersebut tidak mau tahu, dan bahkan nama dari siswanya tersebut sering lupa.

Guru harus kritis terhadap permasalahan siswa. Penting sekali guru untuk terampil dalam menyelidiki siswa yang sedang bermasalah, tentang apakah dia jujur atau tidak kepada gurunya dalam menyampaikan masalahnya tersebut. Konsistensi reward dan punishment yang diberikan juga sangat dibutuhkan untuk memperkuat agar anak selalu berbuat jujur. Kebiasaan memberikan stimulus berupa sikap kritis guru terhadap permasalahan siswa, reward dan punishment yang diberikan guru, tentunya akan memunculkan respon siswa untuk tidak berusaha bohong terhadap permasalahannya, karena siswa tersebut sering mengalami pengalaman bahwa kejujuran pastilah yang menang dan untung, sedangkan kebohongan pastilah akan kalah dan merugi.

Proses penilaian di setiap mata pelajaran pun bisa menjadi alat untuk menanamkan karakter jujur pada siswa. Syaratnya adalah guru harus membuat dan menjalankan rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP) setiap mata pelajaran yang memasukkan nilai karakter jujur pada kegiatan pembelajarannya di setiap kompetensi dasar yang dibebankan kepada siswa. Sehingga, siswa diharapkan tidak hanya melulu fokus pada nilai akademiknya saja tetapi juga nilai karakternya. Hal ini tentu saja akan semakin baik lagi hasilnya, jika didukung sekolah yang bersangkutan dengan cara membuatkan Rapot Karakter selain Rapot Akademik yang biasanya, dan jika memang memungkinkan lagi, menjadikan nilai pada Rapot Karakter tersebut sebagai salah satu syarat kenaikan kelas. Kebiasaan guru menilai kejujuran siswa dalam proses belajar mengajar akan menjadi stimulus yang baik untuk menumbuhkan respon berupa kejujuran siswa.

Sebagai kesimpulan, bahwa usaha guru dalam menanamkan karakter jujur pada siswa dengan menggunakan pendekatan behaviorisme, dapat dimulai dengan memberikan stimulus berupa keteladan berupa kejujuran guru terlebih dulu. Kemudian berusaha menjadi guru yang difavoritkan anak-anak agar segala nasehat kita didengar dan diperhatikan oleh anak-anak. Seorang guru juga harus terampil dalam bersikap kritis terhadap permasalahan siswa. Konsistensi reward dan punishment pun harus ditegakkan agar siswa akan terbiasa bersikap jujur. Dan terakhir, guru harus membiasakan mengambil nilai karakter jujur siswa dalam kegiatan pembelajarannya di setiap mata pelajaran yang diterima anak-anak. Dengan begitu, stimulus-stimulus berupa pembiasaan untuk bersikap jujur akan menghasilkan respon-respon kejujuran dari anak-anak didik yang kemudian menjadi karakter mereka.
READ MORE - CARA MEMBANGUN KARAKTER JUJUR PADA ANAK DIDIK