FIRST LOVE Eps.4 - Part 3

Dengan kondisi permainan yang tak berimbang tapi Universitas Gadjah Mada mengakhiri marching band dengan kemenangn. Di akhir perlombaan, penonton memberikan aplaus yang sangat meriah sambil bertepuk tangan, bersorak, juga bersuit-suit. Mahasiswa Universitas Gadjah Mada yang jumlahnya sebenarnya tidak begitu banyak, malah pada loncat-loncat. Benar-bear tidak disangka lomba marching band tahun ini bisa menang. Begitu perlombaan sudah kelar, Arif langsung mendekati Qutut.
            “ Selamat!” katanya sambil meraih tangan Qutut dan menggenggamnya.
            “ Thanks, plend! Ini demi Universitas Gadjah Mada.
            Keempat anak lainnya juga mengikuti jejak Arif. Mereka memeluk Qutut dan mengucapkan selamat, kecuali Bayu yang mengucapnya tidah jauh di belakangnya.
            “ Kalo sampe sahabat aku jadi bencong beneran.. Aku bunuh lo!”
            Qutut kontan nyengir kuda.
            Begitu juga Pak Hery, dosen yang paling akrab hampir semua mahasiswa yang sukai humornya, ikut mengucapkan selamat.
            “ Sebentar! Ngomong-ngomong.... “ sambungnya, “ Jangan-jangan yang Bapak lihat merdiri di dekat gerbang kampus kamu, ya?”
            Bukan, Pak! Yang Bapak lihat di dekat gerbang itu saya. ” sambar Zian.
            “ Kamu! Kamu! Kamu! Kalian udah bikin stres tau, nggak? Nongol pas udah mepet lagi.” Kata Nanda sambil membereskan semua perlengkapan marching band, di bantu Syifa, Anika, Megha, Kimmy dan Raina.
            “ Jangan salah, kami datang dari jam tujuh kurang.” Jawab  Cahyo. “ Waktu Bayu telpon tadi, kami udah datang disini.”
            “ Apa!” semuanya menoleh bersama.
            “ Iya lah? Emangnya kalian pikir kami berangkat dari rumah. Kalo Ibuku tau bisa semaput dia.”
            Dedi tertawa.
            “ Waktu bawa barang ni, ibuku nanyanya mirip polisi. Aku bilang aja bajunya mau disumbangkan.
            “ Lalu makeupnya?” tanya Megha. “ Kok bagus, sih!”
            Giliran ditanya, tiga cowok mayoret itu pada nyengir menunjuk Zian. Bayu geleng-geleng kepala.
            “ Wah gawat! Gawat! Kenapa kamu nggak bilang kalo bisa dandan?Kalo tau begitu aku nggak mau tidur sekamar sama kamu waktu nginep di rumah Arif.”
            Zian ketawa ngakak, lalu mengedipkan mata.
            “ Kamu tau nggak, Bay? Kamu kalo tidur maniiis!”
            Semua kontan tertawa ramai. Bayu langsung mengepalkan tanganya.
            “ Apa lo bilang? Coba ngomong sekali lagi.”
            Zian makin ngakak.
            “ Ck ck ckc ck! TernyataBayu kalo tidur seksi, menggoda iman.”
            Bayu langsung melompat dan mencekik Zian.
            “ Elo apain gue!? Cepat ngaku! Elo apain gue? Tanggung jawab.”
            Serunya membuat semua makin tertawa geli. Waktu Bayu sibuk menyekik Zian, tiba-tiba dia di peluk Zian dan Qutut dan... “ CUP! CUP!” dua kecupan mendarat di pipi kiri-kanannya, meninggalkan dua cetakan bibir yang merah meyala.
            “ Ahhhhh! Puih! Puih!” Bayu langsung ngiprit jauh-jauh sambil mengusap-usap pipinya.
            Begitu korban mereka kabur, Zian, Cahyo dan Qutut menengok ke kiri-kanan untuk mencari sasaran baru. Saat mata mereka menoleh ke Levi.
            Nanda terpengarah karena dua lengan memeluknya dari belakang, begitu erat dan menariknya mundur perlahan ke sudut saat Zian, Cahyo dan Qututbergerak maju.
            “ Levi curang, beraninya ngumpet di belakang cewek.” Seru Zian.
            Levi tertawa begitu dekat di tengkuk Nanda, sehingga napasnya menyapu kulitnya. Saat Zian, Cahyo dan Qutut maju, Levi semakin menenggelamkan Nanda ke dalam pelukannya sama sekali tidak sadar, bahwa tindakannya itu enyebabkan jantung cewek yang ada di pelukannya bisa deg-degan.
            Nanda mengeluh dalam hati. “Ya sepeti ini yang bikin aku cepet mati!”


                                        BAGAIMANA KISAH GRANANDA SELANJUTNYA??
                LALU APA RENCANA TITAN CS UNTUK MENGHANCURKAN NANDA BERHASIL??
                                              SIMAK CERITA SELANJUTNYA !!!!
READ MORE - FIRST LOVE Eps.4 - Part 3

FIRST LOVE Eps.4 - Part 2

Tiga jam pertandingan selesai, Universitas Negeri Semarang telah memenangkan pertandingan futsal kali ini dan semuanya menerima kekalahan. Para pemain futsal mulai keluar dari GOR. Meskipun begitu, sudah lega rasanya pertandingan futsal berjalan lancar. Meskipun tanpa suporter yang ingin memberi dukungan.
            Sementara di luar, sudah rame marching band group Universitas Negeri Semarang sudah bersiap-siap sedikir memamerkan permainnya di jalan raya Bantul Yogyakarta. Ketika alunan musik mengentak, cewek-cewek itu mulai beraksi.
            Acara selanjutnya seharusnya atraksi marching band dari Universitas Gadjah Mada. Tapi seluruh anggota tim dan suporter itu tahu, Nanda, Syifa, Raina dan kelompok lain tidak akan tampil. Hanya Arif yang tahu bakal ada marching band lain pengganti. Namun dia sengaja tidak menunjukkan surat kaleng itu karena dia sendiri tidak yakin dengan kebenaran isinya. Sejak menerima surat itu, sampai kemarin malam, diam-diam Arif dan Raina melakukan investigasi Mahasiswa- mahasiswi dan hasilnya... Nihil! Sama sekali tidak ada terdium tanda-tanda adanya marching band  grouplain.
            Lima belas menit kemudian, marching band group Universitas Negeri Semarang mengakhiri penampilan mereka. Diiringi tepuk tangan penonton, kelima belas orang itu memberi hormat dan kembali bergabung dengan teman-teman satu Universitas mereka.
            Awan tinggi berubah senyap. Seluruh penonton terpaku di tempatnya masing-masing dengan tatapan lekat. Tapi hanya untuk beberapa saat, karena dua menit kemudian meledaklah gemuruh tawa, teriakan, suitan dan juga tepuk tangan yang membahana.
            Kebingungan, Universitas Gadjah Mada memandan ke segala arah. Termasuk Nanda, Syifa, Anika, Megha, Kimmy, Yakup, Baim dan beberapa teman sekelas, serta sebagian suporter UGM.
            Dengan tatapan mereka berpaling ke satu titik, seiring semakin membahana gemuruh suara dan tangan-tangan yang terjulur menunjuk ke satu arah. Ketika bola mata mereka membesar menatap tak yakin ke satu arah. Sosok tubuh dengan busana yang begitu pendek berwarna gold.
            Marching band  group Universitas Gadjah Mada.
            “ Apa! Bukannya nggak ada marching band.” Kata Bayu heran.” Tapi mayoret itu siapa, ya? Aku nggak pernah lihat cewek di kampus.”
            Tidak ada yang bisa menjawab. Arif dan Raina dua-duanya  yang  di beritahu lewat surat kaleng tentang kemunculan marching band  ternganga tak percaya. Tapi yang paling tahu sudah pasti Nanda dan Syifa sebelum mereka di keluarkan dari marching band group. Tapi mereka tidak berani buka mulut karena takut salah meskipun hampir yakin,  pasti Qutut. Penonton langsung heboh, berdesak-desakan malah banyak penonton di bagian belakang loncat-loncat.
            Begitu marching band  group itu lewat di depan mereka diiringi sebagian penonton di kiri dan kanan. Melihat di depan mereka, tubuh-tubuh yang di balut dengan busana minim dan superketat dengan gaya berjalan yang begitu menggoda. Meliuk-liuk seperti ular.
            Para marching band  itu di komandani Qutut, nama lengkapnya Qutut Pratama, anaknta Bapak Parmin juragan tanah di jamin Ayah-Mamak kalau sekarang anak mereka ganti kelamin. Jika mereka tahu, pasti Qutut langsung di gorok.
            Di sebelah kiri Qutut tampak Zian dan sebelah kanan Qutut tampak Cahyo, dan ini membuat Arif hampir gila. Ketiganya memberi salam  “ Muaahh!” Untuk kapten  tim futsal yang tampaknya seperti baru melihat setan.
            “ Hay, Baeeee!” teriak Zian menyapa sahabatnya dengan gaya centil.
            “ Siapa lo?! Aku nggak kenal. Jangan sembarangan panggil-panggil orang. Dengar kau?” Bentak Bayu.
            Penonton yang mendengar ocehan Bayu langsung tertawa. Apalagi waktu Zian mengibaskan rambut panjangnya lalu buang muka cemberut.
            “ Dasar cowok jahat.”
            Kelima belas marching band group itu melangkah penuh dengan percaya diri. Apalagi ketiga mayoretnya tidak risi walaupun memakai rok superminim. Dengan centil mereka melempar tongkat di tangannya sambil mengedip-ngedipkan mata. Bibir yang merah menyala begitu merekah, sibuk mengirimkan salam cuim jauh untuk para penonton yang terus mengikuti mereka dengan tatapan mata, suitan, suara tawa dan jeritan serta tepuk tangan. Yang menbuat penonton histeris dan tawa terpika-pikal ternyata bukan hanya buasana yang nyaris pas-pasan . Tapi tingkah kecowokannya  yang masih lengkap melekat di tubuhnya. Ada yang kumisan tipis, ada juga yang jenggotan. Ketika mengangkat tangannya untuk membalas lambaian para penonton. Seketika tampaklah bulu ketiak yang.. WOW.... Super lebat. Jangan membayangkan baunya, di jamin orang yang lagi koma bisa langsung ”  koitt”.
            Segala macam bujukan Titan cs sudah tidak mempan. Bahkan waktu Titan bersikeras memberi amplop-amplop itu, mereka langsung melempar amplop-amplop itu ke tanah. Para suporter langsung mengembalikan amplop yang sudah mereka terima.
            Arul, salah satu suporter Universitas Gadjah Mada, serentak menutup muka lalu mengintip dari sela jari. “ Apa itu marching band kampus kita? Astaghfirullah! Besok aku mau pindah kuliah. Cari Universitas laen.
            Dedi, yang punya nama lengkap Dedi Alamsyah dan sholatnya tidak pernah bolong, ngelus-elus dada dengan muka melas. “ Astaghfirullahalaziiim. Inilah salah satu tanda mau kiamat.”
            Kelima pasang mata, milik Arif dan ketiga teman timnya menatap bercahaya. Tidak yakin dengan besar dukungannya yang di berikan untuk mereka dan masih tidak percaya bagaimana semua ini bisa terjadi. Ketiga mayoret cowok dan groupnya berlari bergabung dengan Mahasiswa sekampusnya.
READ MORE - FIRST LOVE Eps.4 - Part 2

FIRST LOVE Eps.4 - Part 1

Minggu pagi jam setengah tujuh, seluruh pemain inti dan beberapa suporter berkumpul dekat gerbang kampus. Pertandingan mulainya jam sembilan, tapi satu setengah jam sebelum pertandingan mereka harus tiba di GOR. Sekarang mereka tinggal menunggu tiga pemain dan lima pemain cadangan. Jam tujuh kurang lima tepat mereka berangkat.
            Waktu demi waktu, jam tujuh kurang lima, tapi empat cowok itu belum terlihat. Tama yang menunggu empat timnya jadi senewen. Mondar-mandir dia melihat-lihat perempatan jalan.
            “ Pada kemana mereka, sih?” gerutu Tama. Sudah di bilang kumpul di kampus jam tujuh kurang lima. Ehhh.. Malah belum datang.” Dia menoleh ke Bayu yang peagang ponsel. “ Bay, telpon Arif posisi dimana sekarang.”
            “ Apa!” jawab Bayu. Sesaat kemudian. “ Kita disuruh berangkat duluan, Tam. Katanya ketemuan langsung di GOR.”
             “ Lalu yang lainnya?”
            “ Sama! Mereka ada di rumah Fazi, tiga-tiganya dan lima pemain cadangan.”
            “ Ada-ada aja.” Tama kesal. “ Kenapa nggak ngomong kemarin. Ya udah! Ayo berangkat.”
            Mereka berangkat. Setibanya mereka sudah di GOR, ternyata gadis-gadis Candy sudah ada di sana berjaga-jaga di dua pintu masuk. Melaukan usaha terakhir demi suksesnya aksi boikot sekaligus memastikan bahwa mereaka yang sudah menerima uang sogokan tidak mencari-cari kesempatan. Uang iya, nonton iya. Ck ck ck ck!
            Begitu mobil mereka lewat di depan Titan cs, Nanda langsung memeluk Levi mesra. Nanda terus melototi Titan.
            “ Kenapa lo lihat-lihat cowok gue? Mau elo hipnotis, ya?” galaknya.
             Syifa dan anak lain yang duduk di belakang kontan tertawa. Sementara Levi Cuma tersenyum tipis tanpa menoleh sama sekali. Dia membalas pelukan di lehernya dengan belaian sayang.
            Titan jelas marah menyaksikan adegan itu. Begitu juga gerombolan temannya yang berdiri tepat di sebelahnya. Mereka menatap Nanda dengan sorot marah seakan ingin mencekik dan memutasi si Geliz itu.
            Titan cs langsung berjaga-jaga lagi karena dari jalan raya muncul tiga mobil berisi sekawanan suporter. Mereka adalah para suporter yang penasaran dengan janji pengumuman misterius itu. Sebagian besar dari mereka belum mengembalikan uang sogokan.
            Arif, Tama, Levi, Bayu dan Nanda berdiri di koridor. Sementara yang lain langsung bergabung dengan Pak Hery,  pelatih futsal Universitas Gadjah Mada ternyata sudah lebih dulu hadir dan menunggu di dalam GOR.
            Tama masih penasaran sama isi pengumuman misterius itu. Terlebih surat kaleng yang dia terima. Akan ada kelompok marching band lain. Tama tanya dengan Syifa, dia bilang tidak ada kerena mereka di keluarkan dari group marching band . Jadi ada marching band  lain. Siapa mereka? Itu yang tak sabar dia tunggu.
            Satu jam kompetisi di mulai, para  suporter dari Universitas Gadjah Mada mulai berdatangan. Meskipun tidak ada setengahnya kalau dibandingkan dengan suporter UNES dan suporeter Universitas lain yang akan turun dalam dua kali babak penyisihan hari ini. Tapi lumayan jadi nggak sepi-sepi amat seperti pikiran semula.
            Namun tiba-tiba saja sebagian besar suporter itu balik badan setelah di ajak ngomong Titan dan Viola dan menerima sesuatu di sodorkan Vanya dan Sonya.
            “ Wah! Apa lagi, nih?” Arif langsung menajamkan mata. “ Uang lagi? Ampun dah!” Arif geleng-geleng kepala. “ Kamu pake apa sih, Lev? Kamu bisa bikin cewek-cewek pada nggak waras. Emm... Atau kamu, Nda?”
            “ Apa?” Nanda menoleh.
            “ Iya. Kamu pake jampi-jampi apa?”
            “ Huh!! Ngapain juga sih bahas yang nggak-nggak.” Ini nih salah satu korban isu bahwa Nanda mandi kembang tengah malam.”
            Semua yang berdiri di koridor menatap kedua pintu gerbang. Mereka menjadi was-was takala semakin banyak suporter yang tergiur sogokan Titan cs. Sekarang sebagian besar suporter itu Cuma berkeliaran atau duduk-duduk di area parkir GOR.
            “ Hei! Semuanya di suruh masuk.” Fazi dan Reza muncul dari dalam GOR. Fazi langsung heran melihat para suporter Universitas Gadjah Mada masih hilir-mudik di luar, sementara suporter tiga Universitas lain sudah pada heboh di dalam, duduk berkelompok dan mulai mengeluarkan segala macam, seperti Spanduk, peluit, terompet, kerincingan, botol minuman untuk di pukul-pukul.
            “ Kenapa sih mereka nggak masuk?” tanya Fazi heran.
            “ Tanya aja cewek-cewek itu, apa isi aplop yang mereka bagi.” Jawab Reza.
            “ Ah, sialan! Emang kurang ajar tuh cewek-cewek itu. Nggak ada loyalitas sama sekali. Ingin aku injak-injak tuh mereka.”
            “ Etzzz.. Tunggu! Mau kemana?” Reza buru-buru mencegah Fazi yang sudah siap-siap pergi menghampiri Titan cs.
            “ Apa kamu nggak liat?”
            “ Mereka nggak akan pergi, Zi? Tenang aja!” tegas Reza ringan.
            “ Bagaimana kamu bisa yakin?”
            “ Aku yakin, karena mereka penasaran dengan pengumuman itu. Sama seperti kita, jadi mereka nggak akan pergi. Mereka penasaran menunggu kehebohan yang akan terjadi.”
            “ Kita lihat aja!”
            “ Yuk, masuk!”
            Fazi mengangguk-ngangguk.
            “ Pinter juga mereka.”
READ MORE - FIRST LOVE Eps.4 - Part 1