Macam Metode Penelitian

Variabel ialah suatu sifat atau atribut atau nilai dari orang, obyek atau kegiatan yang mempunyai variasi tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya.

Menurut Kerlinger ( 1973 ) bahwa variabel ialah konstruk atau sifat yang harus dipelajari. Semisal, tingkat aspirasi, penghasila, pendidikan, status sosial, jenis kelamin. Dan sebagainya. Variabel dapat dikatakan sebagai suatu sifat yang diambil dari suatu nilai yang berbeda. Dengan demikian variabel merupakan suatu yang bervariasi.

Dinamakan variabel karena ada variasinya, misalkan saja karena alasan berat badan suatu kelompok orang itu bervariasi karena terdapat perbedaan dari macam-macam sudut pandang.

Variabel juga berarti atribut dari bidang keilmuan atau kegiatan tertentu, karena itu dapat didefinisikan sebagai atribut seseorang atau obyek, yang mempunyai variasi antara satu dengan yang lain atau satu obyekdengan yang lainnya.

Macam – Macam Variabel.

Menurut hubungan antara satu variabel dengan variabel yang lain maka macam - macam variabel dalam penelitian dapat dibedakan menjadi :

1) Variabel Independen : variabel ini sering disebut sebagai variabel sitimilus, predictor, antecedent. Dalam bahasa Indonesia sering disebut sebagi variabel bebas. Variabel bebas adalah merupakan variabel yang mempengaruhi atau yang menjadi sebab perubahannya atau timbulnya variabel dependen(terikat).

2) Variabel Dependen : sering disebut sebagai variabel output, criteria, konsekuen. Dalam bahasa Indonesia sering disebut sebagai variabel terikat. Variabel terikat merupakan variabel yang dipengaruhi atau yang menjadi akibat, karena adanya variabel bebas.

3) Variabel Moderator : adalah variabel yang mempengaruhi (memperkuat dan memperlemah ) hubungan antara variabel independen dan dependent. Variabel juga disebut juga sebagai variabel independen kedua. Hubugan perilaku suami dan istri akan semakin baik (kuat) kalau mempunyai anak , dan akan menjadi semakin renggang kalau ada pihak ketiga ikut mencampuri. Disini anak adalah sebagai variabel moderator yang memperkuat hubungan dan pihak ketiga adalah sebagai variabel moderator yang memperlemah hubungan.

4) Variabel intervening : dalam hal ini Tuckman (1988) menyatakan “An intervening variable is that factor that theoretically affect the observed phenomenon but cannot be seen, measure, or manipulate”. Variabel intervening adalah variabel yang secara teoritis mempengaruhi hubungan antara variabel independen dengan dependen menjadi hubungan yang tidak langsung dan tidak dapat diamati dan diukur. Variabel ini merupakan variabel penyela/antara yang terletak diantara variabel independen dan dependen, sehingga variabel independen tidak langsung mempengaruhi berubahnya atau timbulnya variabel dependen.

5) Variabel Kontrol : adalah variabel yang dikendalikan atau yang dibuat konstan sehingga hubungan variabel independen terhadap dependen tidak dipengaruhi oleh factor luar yang tidak diteliti. Variabel control sering digunakan oleh peneliti, bila akan melakukan penelitian yang bersifat membandingkan.



Teknik Sampling.

Teknik sampling adalah merupakan teknik pengmbilan sampel.

Teknik sampling pada dasarnya dapat dikelompokan menjadi dua yaitu : Probability Sampling dan Nonprobalitiy Sampling. Probality sampling meliputi, simple random,proportionate stratified random,disproportionate stratified random, dan area random. Nonprobality sampling meliputi, sampling sistematis, sampling kuota, sampling aksedental, purposive sampling, sampling jenuh, dan snowball sampling.

Probality Sampling.

Probality sampling adalah teknik pengambilan sampel yang memberikan peluang yang sama bagi setiap unsur (anggota) populasi untuk dipilih menjadi anggota sampel.

1) Simple Random Sampling.

Dikatakan simple (sederhana) karena pengambilan anggota sampel dari populasi dilakukan secara acak tanpa memperhatikan strata yang ada dalam populasi itu. Cara demikian dilakukan bila anggota populasi dianggap homogen.

2) Proportionate Stratified Random Sampling.

Teknik ini digunakan bila populasi mempunyai anggota/unsur yang tidak homogeny dan berstrata secara proporsional. Misalnya jumlah pegawai yang lulus S1 = 45, S2 = 30, STM = 800,ST = 900, SMEA =400, SD = 300. Jumlah sampel dan teknik pengambilan sampel diberikan setelah bagian ini.

3) Disproportionate Stratified Random Sampling.

Teknik Ini digunakan untuk menentukan jumlah sampel, bila populasi berstrata tetapi kurang proposional. Misalnya pegawai dari unit kerja tertentu mempunyai; 3 orang lulusan S3, 4 orang lulusan S2, 90 orang S1, 800 orang SMU, 700 orang SMP, maka tiga orang lulusan S3 dan empat orang S2 itu diambil semuanya sebagai sampel. Karena dua kelompok ini terlau kecil bila dibandingkan dengan kelompok S1, SMU, dan SMP.

4) Cluster Sampling (area sampling).

Teknik sampling daerah digunakan untuk menentukan sampel bila objek yang akan diteliti atau sumber data sangat luas, missal penduduk dari suatu Negara, propinsi atu kabupaten. Untuk menentukan penduduk mana yang akan dijadikan sumber data, maka pengambilan sampenya berdasarkan daerah populasi yang telah ditetapkan.

Misalnya di Indonesia terdapat 30 propinsi dan sampelnya akan menggunakan 15 propinsi,maka pengambilan 15 propinsi itu dilakukan secara random. Tetapi perlu diingat, karena propinsi – propinsi di Indonesia itu berstrata (tidak sama) maka pengambilan sampelny perlu menggunakan stratified random sampling.

Teknik sampling daerah ini sering digunakan melalui dua tahap, yaitu tahap pertama menentukan sampel daerah, dan tahap berikutnya menentukan orang – orang yang ada pada daerah itu secara sampling juga.

Nonprobability Sampling.

Nonprobality sampling adalah tenik pengambilan sampel yang tidak memberikan peluang/kesempatan sama bagi setiap unsur atau anggota populasi untuk dipilih menjadi sampel.

1) Sampling Sistematis.

Sampling sistematis adalah teknik pengambilan sampel berdasarkan urutan dari anggoata populasi yang telah diberi nomor urut. Misalnya anggoata populasi yang terdiri dari seratus otang. Dari semua anggota itu diberi nomor urut, yaitu nomor 1 sampai dengan 100. Pengambilan sampel dapat dilakukan dengan nomor ganjil saja, genap saja, atau kelipatan dari bilangan tertentu, misalnya kelipatan dari bilangan lima. Untuk ini maka yang diambil sebagai sampel adalah nomor 1, 5,10, 15, 20, dan seterusnya sampai 100.

2) Sampling Kuota.

Sampling kuota adalah teknik untuk menentukan sampel dari populasi yang mempunyai ciri-ciri tertentu sampai jumlah (kuota)

Yang diinginkan. Sebagai contoh, akan melakukan penelitian tentang pendapat masyarakat terhadap pelayanan masyarakat dalam urusan ijin Mendirikan Bangunan. Jumlah sampel yang ditentukan 500 orang tersebut, maka penelitian dipandang belum selesai, karena belum memenuhi kuota yang ditentukan.

Bila pengumpulan data dilakukan secara berkelompok yang terdiri dari 5 orang pengumpul data, maka setiap anggota kelompok dapat menghubungi seratus orang anggota sampel, atau 5 orang tersebut harus dapat mencari data dari 500 anggota sampel.

3) Sampling Insidental.

Sampling insedental adalah teknik penentuan sampel berdasarkan kebetulan, yaitu siapa saja yang secara kebetulan /insidental bertemu dengan peneliti dapat digunakan sebagai sampel, bila dipandang orang yang kebetulan ditemui itu cocok sebagai sumber data.

4) Sampling Purposive.

Sampling purposive adalah teknik penentuan sampel dengan pertimbangan tertentu. Misalnya akan melakukan penelitian tentang kualitas makanan, maka sampel sumber datanya adalah orang yang ahli makanan, atau penelitian tentang kondisi politik disuatu daerah, maka sampel sumber datanya adalah orang yang ahli sumber politik. Sampel ini lebih cocok digunakan untuk penelitian kualitatif, atau bpenelitian – penelitian yang tidak melakukan generalisasi.

5) Sampling Jenuh.

Sampling jenuh adalah teknik penentuan sampel bila semua anggota populasi digunakan sebagai sampel. Hal ini seing dilakukan bila jumlah populasi relatif kecil, kurang dari 30 orang, atau penelitian yang ingin membuat generalisasi dengan kesalahan yang sangat kecil. Istilah lain sampel jenuh adalah sensus, dimanan semua anggota populasi dijadikan sampel.

6) Snowball Sampling

Snowball sampling adalah tekik penentuan sampel yang mula –mula jumlahnya kecil,kemudian membesar. Ibarat bola salju yang menggelinding yang lama – lama menjadi besar. Dalam penentuan sampel, pertama – tama diplilih satu atau dua orang, tetapi karena dengan dua orang ini belum merasa lengkap terhadap data yang diberikan, maka peneliti mencari orang lain yang dipandang lebih tahu dan dapat melngkapi data yang diberikan oleh dua orang sebelumnya. Begitu seterusnya, sehingga jumlah sampel semakin banyak. Pada penelitian kualitatif banyak menggunakan sampel purposive dan snowball. Misalnya akan meneliti siapa provokator kerusuhan, maka akan cocok menggunakan purposive dan snowball sampling.


READ MORE - Macam Metode Penelitian

RUANG LINGKUP ADMINISTRASI PENDIDIKAN

RUANG LINGKUP ADMINISTRASI PENDIDIKAN

A. PENDAHULUAN

Dalam mengelola administrasi di dunia pendidikan dibutuhkan kematangan dalam mengatur pola administrasi, dan sesuai dengan pola yang lebih baik serta sesuai dengan aturan yang berlaku.

Administrasi pendidikan menurut Sondang P. Siagian adalah keseluruhan proses pelaksanaan daripada keputusan yng telah diambil dan pelaksanaan itu pada umumnya dilakukan oleh dua orang manusia atau lebih untuk mencapai tujuan yang telah ditentukan.1

Administrasi mengandung beberapa pokok pengertian yaitu administrasi sebagai proses kerja sama, aktivitas kerja sama dilakukan dua orang atau lebih. Merupakan wadah kerja sama yang berupa lembaga atau organisasi. Dan mempunyai tujuan tertentu yang ingin dicapai.

Sedangkan pendidikan merupakan salah satu faktor terpenting dalam meningkatkan SDM yang akan menopang gerak pembangunan. Pendidikan sebagai investasi yang akan menghasilkan manusia-manusia yang memiliki pengetahuan, sikap, dan keterampilan yang dibutuhkan dalam pembangunan suatu bangsa. Maka dari itu dibutuhkan untuk mengatur agar dapat terstruktur dengan baik. Dalam pandangan nilai, pendidikan mempunyai peran central sebagai pendorong individu dan warga masyarakat untuk meraih progresivitas pada semua lini kehidupan. Di samping itu, pendidikan dapat menjadi determinan penting bagi proses transformasi personal maupun sosial.

1. Sondang P. Siagian, Administrasi Pembangunan. ( Jakatra:Gunung Agung, 1974 ), hal. 2.


B. RUMUSAN MASALAH

Dalam makalah ini akan dibahas tentang :

1. Pengertian Administrasi Pendidikan ?

2. Apa Sajakah yang Menjadi Ruang Lingkup Administrasi Pendidikan ?


C. PEMBAHASAN
1.) Pengertian Administrasi Pendidikan.

Administrasi dalam bahas Indonesia, kata Administrasi itu sendiri. Merupakan serapa dalam bahas Belanda ‘Administratie’ yang bersifat terbatas dan hanya menyangkut sebagian kecil dari pengertian yang sebenarnya. Dimaksudkan ialah ketata-usahaan yang diartikan sebagai kegiatan penyusunan keterangan-keterangan secara sistematis dan pendataan secara tertulis semua kegiatan yang diperlukan dengan maksud memperoleh suatu ikhtisar dalam keseluruhan dan dalam hubungannya yang sama. Administrasi pendidikan adalah suatu proses penyelenggaraan dan pengurusan segenap tindakan atau kegiatan dalam setiap usaha kerja sama kelompok manusia untuk mencapai tujuan tertentu.

Menurut Luther Gullick yang mendefinisikan bahwa administrasi sebagai pengorganisasian dan pengarahan sumber-sumber yang berupa manusia atau tenaga kerja dan material untuk mencapai tujuan akhir yang diinginkan.2

Administrasi pendidikan adalah proses keseluruhan kegiatan bersama dalam bidang pendidikan yang meliputi perencanaan, pengorganisasian, pengarahan, pelaporan, pengkoordinasian, pengawasan dan pembiayaan, dengan menggunakan atau memanfaatkan fasilitas yang tersedia, baik personil, materiil, maupun spirituil untuk mencapai tujuan pendidikan secara efektif dan efisien.




1. Mulyono, Manajemen Administrasi dan Organisasi Pendidikan. (Jogjakarta: Arruzz,2008) hal.43.



Jadi, dengan lebih memperhatikan aspek administrasi pendidikan maka diharapkan tujuan pendidikan atau target program pendidikan dapat tercapai secara efektif dan efisien. Administrasi pendidikan yang juga sering disebut dengan manajemen pendidikan yang sangat diperlukan untuk menjamin supaya seluruh kegiatan pendidikan dapat terlaksana dengan optimal.Administrasi pendidikan memiliki fungsi sebagai berikut, : Perencanaan (Planning), Pengorganisasian (Organizing), Pengoordinasian (Coordinating), Komunikasi, Supervisi, Kepegawaian (Staffing), Pembiayaan (Budgeting), Penilaian (Evaluating).

Dalam administrasi pendidikan terkandung unsur-unsur, yaitu 1) Tujuan yang akan dicapai, 2) Adanya proses kegiatan bersama, 3) Adanya pemanfaatan sumber daya, 4) Adanya kegiatan perencanaan, pengorganisasian, penggerakan, pengawasan terhadap sumber daya yang ada.Dengan melihat kepada unsur–unsur pokok dalam administrasi seperti telah di kemukakan terdahulu, jelas bahwa bidang–bidang yang tercakup di dalam proses kegiatan administrasi pendidikan itu luas.

Administrasi dalam pendidikan yang tertib dan teratur, sangat diperlukan untuk meningkatkan kemampuan pengelolaan pendidikan bagi Kepala Sekolah dan Guru. Peningkatan kemampuan tersebut akan berakibat positif, yaitu makin meningkatnya efisiensi, mutu dan perluasan pada kinerja di dunia pendidikan tersebut. Untuk memperlancar kegiatan di atas agar lebih efektif dan efisien perlu informasi yang memadai. Sistem informasi di dunia pendidikan ini menyangkut dua hal pokok yaitu kegiatan pencatatan data(recording system) dan pelaporan (reporting system).

Sedangkan Administrasi pendidikan memiliki peran sebagai berikut, : Perencanaan (Planning), Pengorganisasian (Organizing), Pengoordinasian (Coordinating), Komunikasi, Supervisi, Kepegawaian (Staffing), Pembiayaan (Budgeting), Penilaian (Evaluating).

2.) Apa sajakah yang menjadi Ruang Lingkup Administrasi Pendidikan.

Secara umum ruang lingkup administrasi pendidikan ialah :

a.) Administrasi Kurikulum

Meliputi pembukuan dan pendataan jumlah meta pelajaran yang diajarkan, waktu tersedia, jumlah guru beserta pembagian jam pelajaran, jumlah kelas, penjadwalan, buku yang dibutuhkan, program semester, evaluasi, program tahunan dan kalender pendidikan.

b.) Administrasi ketenagaan pendidikan ( kepegawaian )

Meliputi, kumpulan surat lamaran dan penerimaan pegawai, mutasi, surat keputusan, surat tugas, berkas-berkas tenaga kependidikan, daftar umum kepegawaian.

c.) Administrasi kesiswaan

Meliputi, Organisasi dan perkumpulan murid. Masalah kesehatan dan kesejahteraan murid. Penilaian dan pengukuran kemajuan murid. Bimbingan dan penyuluhan bagi murid.

d.) Admnistrasi sarana dan prasarana pendidikan

Meliputi, buku perencanaan pengadaan barang, buku pembagian dan penggunaan barang, buku perbaikan barang, dan lain-lain.

e.) Administrasi keuangan/pembiayaan pendidikan, meliputi keuangan pendaftaran siswa batu, uang gedung, uang seragam, uang pealatan sekolah, SPP. Dan lain-lain.

f.) Administrasi perkantoran, meliputi surat masuk dan keluar, buku tamu, buku-buku pentung terkait penyelenggaraan pendidikan.

g.) Administrasi unit-unit penunjang pendidikan, meliputi bimbingan konseling, UKS, pramuka, olahraga, kesenian.

h.) Administrasi layanan khusus pendidikan, meliputi konsumsi, layanan antar jemput, bimbingan khusus di rumah.

i.) Administrasi tat lingkungan dan keamanan sekolah, meliputi perencanaan tata tertib dan pertamanan di sekolah, jadwal penjaga, jadwal kebersihan.

j.) Administrasi hubungan dengan masyarakat, meliputi hasil kerja sama, program-program humas. Dan sebagainya.

Data pendidikan yang terdapat disekolah sangat banyak macam dan jenisnya. Ada yang bersifat relatif tetap dan ada yang selalu berubah. Untuk mendapatkan gambaran perubahan data dari waktu ke waktu, perlu dilakukan pencatatan yang teratur dan berkelanjutan dengan menggunakan sistem yang baku dalam satu sistem. Agar pencatatan data lebih akurat dan benar sesuai yang diharapkan tenaga administrasi yang terampil dan mengetahui apa yang menjadi tugasnya.Di lembaga pendidikan tingkat menengah hampir sebagian besar belum ada tenaga administrasi sesuai yang diharapkan.

Kepala Sekolah sebagai administrator di lingkungan sekolah yang dipimpinnya, dalam melaksanakan tugas administrasi dibantu oleh guru dengan cara membagi tugas administrasi mereka. Agar dalam melaksanakan tugas administrasi dan pelaporan, cepat dan benar diperlukan pedoman administrasi di tingkat sekolah. Jadi administrasi pendidikan sangat mempunyai peran dalam pengembangan dan kemajuan dalam dunia pendidikan sehingga arah untuk merealisasikan suatu prestasi sangatlah mudah tercapai.



D. SIMPULAN

Administrasi suatu lembaga pendidikan merupakan suatu sumber utama manajemen dalam mengatur proses belajar mengajar dengan tertib sehingga tercapainya suatu tujuan terpenting pada lembaga pendidikan tersebut. Yang sangat diperlukan oleh para pelaku pendidikan untuk melakukan tugas dan profesinya. Kepala Sekolah dan guru disekolah sangat memerlukan data-data tentang siswa, kurikulum, sarana dan sebagainya untuk pengelolaan sekolah sehari-hari. Pengawas pendidikan di semua tingkat memerlukan data-data tersebut sebagai bahan sarana supervisi. Untuk tingkat yang lebih tinggi misalnya Dinas Pendidikan mulai tingkat kecamatan sampai propinsi memerlukan data untuk pelaporan yang lebih tinggi, untuk melakukan pembinaan, serta untuk menyusun rencana atau program pendidikan pada masa mendatang. Di tingkat pusat (nasional) data pendidikan diperlukan untuk perencanaan yang lebih makro, melakukan pembinaan, pengawasan, penilaian (evaluasi), dan keperluan administrasi lainnya.

DAFTAR PUSTAKA

Mulyono. 2008. Manajemen Administrasi dan Organisasi Pendidikan. Ar-Ruzz:Jogjakarta.

Subroto,Suryo. 1988. Dimensi-dimensi Administrasi Pendidikan di Sekolah.Bina Aksara:Jakarta.

http://mimbarmahasiswa.blogspot.com/2011/05/ruang-lingkup-dan-fungsi-administrasi.html




READ MORE - RUANG LINGKUP ADMINISTRASI PENDIDIKAN

PENDIDIKAN AGAMA ISALAM SEBAGAI SUB SISTEM PENDIDIKAN NASIONAL

I. Pendahuluan

Pendidikan agama merupakan suatu landasan filosofis religious pendidikan. Pada hakikatnya segala pengetahuan bersumber dari Tuhan Yang Maha Esa. Dan Tuhan telah menurunkan pengetahuan baik melalui utusanNya berupa wahyu, maupun berbagai hal yang ada di alam semesta. Kebenaran pengetahuan bersifat mutlak seperti dalam pengetahuan keagamaan karena bersumber langsung dari Tuhan. [1]

Dilihat dari kemajemukan agama yang ada di Indonesia agama Islam mendominasi ragam agama yang ada, maka mayoritas penduduk di Indonesia menganut agama Islam. Dari alasan diatas dalam usaha mencerdaskan kehidupan bangsa, Negara Indonesia memasukkan Sistem Pendidikan Agama Islam dalam Sistem Pendidikan Nasional, karena pendidikan agama dapat memainkan peranan yang lebih kuat dalam upaya memperbaiki akhlaq masyarakat.[2]

Pendidikan agama juga sangat dianjurkan sekalipun di Negara yang maju, karena sifat religiusitas harus ditanamkan. Dengan adanya itu, orang akan mempunyai pegangan dan mempunyai rasa Ketuhanan dan Keimanan. Maka, dari alasan tersebut dalam makalah kami akan membahas beberapa hal yang kami rangkum pada rumusan masalah.



I. Rumusan Masalah

1. Bagaimana Pendidikan Agama dalam lingkup Pendidikan Nasional?

2. Bagaimana Pendidikan Agama Islam sebagai Sub Sistem Pendidikan Nasional?

II. Pembahasan

1. Bagaimana Pendidikan Agama dalam lingkup Pendidikan Nasional?

Pendidikan agama merupakan hal yang paling mendasar yang diajarkan pertama kali dalam kehidupan. Pendidikan agama juga bersifat fleksibel sesuai apa yang mendukung pada budaya dan tradisi. Dan untuk mewujudkan sepenuhnya bahwa moral dan kehidupan keagamaan bangsa yang sangat kuat yang mampu membentengi bangsa Indonesia dari kehancuran meskipun masih perlu dibenahi sistemnya.

Pendidikan Nasional sangat berpengaruh dewasa ini karena Negara Indonesia ingin mewujudkan pendidikan yang baik dan bermutu dengan menerapkan kurikulum yang sebagai acuan dari pusat pada daerah, sedang Sistem Pendidikan Nasional yang sekarang digunakan lewat berbagai amandemen perubahan sampai pada dibuatnya Undang-Undang yang mengatur Sistem Pendidikan yang sekarang digunakan ialah Undang-Undang no. 20 Th.2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional.

Didalam tujuan Pendidikan Nasional tersebut bahwa berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga Negara yang demokratis serta bertanggung jawab.[3] Dapat diambil suatu kesimpulan bahwa Pendidikan Agama adalah bagian yang pertama untuk dijadikan dasar yang utama dalam memperoleh pengetahuan.

Pendidikan Nasional dibagi menjadi 3, yaitu:

a.) Pendidikan Formal

b.) Pendidikan Informal

c.) Pendidikan Non Formal

Pada 3 bagian diatas, pendidikan agama banyak diterapkan pada masing-masing aspek kehidupan. Terkait dengan tujuan Pendidikan Nasional tersebut membentuk suatu keterikatan satu sama lain, dan agama sebagai penunjang untuk pencapaian Pendidikan Nasional.

Terdapat bebarapa konsep dari tujuan Pendidikan Nasional yang didalamnya menyangkut sifat religiusitas yaitu, untuk mendukung kehidupan bangsa yang cerdas, konsep manusia yang seutuhnya agar dapat beriman, bertakwa, berbudi pekerti luhur, berpengetahuan, berketrampilan dan terampil, sehat jasmani dan rohani, berkepribadian yang mantap dan mandiri serta memiliki tanggung jawab kemasyarakatan dan kebangsaan.

2. Bagaimana Pendidikan Agama Islam sebagai Sub Sistem Pendidikan Nasional?

Pendidikan Islam dan Sistem Pendidikan Nasional secara keseluruhan memiliki latar belakang sosio-historis yang sama dan persoalan yang muncul serta upaya untuk menuju ke arah yang sering kali sama dan serasi. [4]

Dari pernyataan diatas bahwa ada perbedaan tetapi banyak kesamaan dalam tujuannya, tergantung pada kepentingan sosial yang mengelola atau pemegang kendali pengelolaan. Pendidikan Islam dalam Sistem Pendidikan Nasional diterapkan pada sekolah-sekolah yang digunakan untuk mewujudkan anak didik yang baik dan berakhlak terpuji. Karena era globalisasi yang semakin tidak ada batasnya, banyak norma yang berasal dari budaya asing menjadi bebas berlalu lalang. Maka, untuk memberikan perisai agar tidak terjadi penyalahgunaan diberikan adanya pendidikan agama Islam.

Sebagai peserta didik yang mempunyai perkembangan keagamaan sangat rentan terhadap godaan dari luar dirinya. Juga ego yang masih tinggi meluap-luap apalagi yang sudah memasuki masa pubertas. Pendidikan keagamaan berperan penting bagi remaja karena dalam membentuk kepribadian yang mulia. Maka, pendidikan agama Islam berperan penting bagi yang beragama Islam untuk menjadi manusia yang baik.

Ide-ide agama, dasar-dasar agama dan pokok-pokok agama pada umumnya diterima seseorang pada masa kecilnya. Bahwa pengertian tentang agama sejalan dengan pertumbuhan kecerdasan. Dan itu sama halnya dengan pendidikan agama Islam berperan dari awal ibu mengandung. [5]

Pendidikan agama Islam sudah ditetapkan sejak tahun 1967 sebagai mata pelajaran wajib di sekolah-sekolah umum seperti SD, SMP, SMA yang diajarkan setiap 2 jam dalam seminggu dan merupakan pelajaran inti, meskipun tidak di UNASkan di Negara ini. Pengadaan pendidikan diatur oleh DEPAG yang sekarang berubah menjadi KEMENAG untuk penyelenggaraan pendidikan. Menyiapkan pembinaan guru agama dan penyiapan buku panduan guru, silabus serta buku pegangan murid. Ini menyebutkan bahwa Pendidikan Agama Islam di atur oleh sistem Pendidikan Nasional dimana pusat memberikan wewenang kepada daerah untuk mengexplor sesuai dengan situasi di daerah.[6]

Mengintregasikan pendidikan agama Islam dalam Pendidikan Nasional memang susah karena juga ada proses yang mengarahkan pada tujuan mewujudkan tujuan pendidikan yang ideal sesuai yang diharapkan. Kesadaran perlunya mengembangkan orientasi pendidikan agama Islam yang menyangkut masalah sosial keduniawian yang muncul pada kalangan muslim sekarang, kemudian lembaga membuat kurikulum pendidikan agama Islam sesuai UU no.20 th.2003 untuk memudahkan proses pembelajaran. Badan Pekerja Komite Nasional Pusat (BPKNP) merekomendasikan ketentuan terkait pelajaran agama dalam sekolah diberikan dalam jam pelajaran sekolah, para guru dibayar oleh pemerintah, dan sebagainya. Sebagai contoh sekarang madrasah sudah terintegrasi dengan mengadakan pelajaran umum, dan pada sekolah umum PAI diberikan 2 jam pelajaran dalam 6 hari. Kemudian madrasah menyesuaikan pada kurikulum yang berlaku, sedangkan sekolah umum juga sama halnya. [7]

Berdasar pada tujuan UU. No.20 th.2003 tersebut bahwa PAI juga sebagai rancangan dan penunjang untuk mencapai Pendidikan Nasional karena merupakan salah satu pendidikan yang mendukung tujuan Pendidikan Nasional. Untuk mengajarkan pendidikan norma yang langsung bersumber pada norma yang ada.



III. Kesimpulan

Pendidikan agama Islam mengintegrasi pada Pendidikan Nasional karena pendidikan agama Islam sangat berperan penting dalam menyelenggarakan pendidikan. Dalam tujuan pendidikan Nasional tersebut tercantum ketentuan yang berkaitan dengan keberagamaan, untuk mendukung tercapainya kecerdasan bangsa dan mengemukakan untuk pengembangan manusia Indonesia yang seutuhnya yang bertakwa dan berbudi pekerti luhur, memiliki pengetahuan, sehat jaasmani dan rohani, berkepribadian yang mantap dan bertanggung jawab kemasyarakatan dan kebangsaan.

Pendidikan agama Islam ialah sebagai rancangan dan penunjang untuk pencapaian pendidikan Nasional karena menjadi salah satu pendidikan yang mendukung tujuan pendidikan Nasional.

DAFTAR PUSTAKA



Sindhunata.2000.Menggagas Paradigma Baru Pendidikan.Kanisius:Yogyakarta

Sururin.2004.Ilmu Jiwa Agama.Raja Grafindo Persada:Jakarta

Wahyudin,Dinn.2007.Pengantar Pendidikan.UT:Jakarta

Edikasi.kompasiana.com.postingan tgl 8 Desember 2012. Pukul 14.08




[1][1] Dinn Wahyudin.dkk,Pengantar Pendidikan.(Jakarta:UT,2007),hal.2.11.


[2][2] Sindhunata,Menggagas Paradigma Baru Pendidikan.(Yogyakarta:Kanisius,2000),hal.216.


[3] Undang-Undang SISDIKNAS no.20 th.2003 pasal 3.


[4] Sindhunata. Menggagas Paradigma Baru Pendidikan.(Yogyakarta:Kanisius,2000),hal.220.


[5] Sururin.Ilmu Jiwa Agama.(Jakarta:Raja Grafindo Persada,2004),hal.66.


[6] Opcit, hal.223




[7] Edukasi.kompasiana.com.postingan tgl 8 Desember 2012,pukul 14.08
READ MORE - PENDIDIKAN AGAMA ISALAM SEBAGAI SUB SISTEM PENDIDIKAN NASIONAL