PERAN ADMINISTRASI PENDIDIKAN DALAM DUNIA PENDIDIKAN

PERAN ADMINISTRASI PENDIDIKAN DALAM DUNIA PENDIDIKAN

A. PENDAHULUAN

Pendidikan merupakan salah satu faktor terpenting dalam meningkatkan SDM yang akan menopang gerak pembangunan. Pendidikan sebagai investasi yang akan menghasilkan manusia-manusia yang memiliki pengetahuan, sikap, dan keterampilan yang dibutuhkan dalam pembangunan suatu bangsa. Manfaat (benefit) individu, social atau institusional akan diperoleh secara bervariasi. Akan tetapi, manfaat individual tidak akan diperoleh secara cepat (quick yielding), tetapi perlu waktu yang cukup lama, bahkan bisa satu generasi. Membincangkan pendidikan berarti berbicara kebutuhan primer manusia. Kedua, pendidikan juga merupakan wahana strategis bagi upaya perbaikan mutu kehidupan manusia, yang ditandai dengan meningkatnya level kesejahteraan, menurunnya derajat kemiskinan dan terbukanya berbagai alternatif opsi dan peluang mengaktualisasikan diri di masa depan.

Dalam tataran nilai, pendidikan mempunyai peran vital sebagai pendorong individu dan warga masyarakat untuk meraih progresivitas pada semua lini kehidupan. Di samping itu, pendidikan dapat menjadi determinan penting bagi proses transformasi personal maupun sosial. Dan sesungguhnya inilah idealisme pendidikan yang mensyaratkan adanya pemberdayaan.

Namun dalam tataran ideal, pergeseran paradigma yang awalnya memandang lembaga pendidikan sebagai lembaga sosial, kini dipandang sebagai suatu lahan bisnis basah yang mengindikasikan perlunya perubahan pengelolaan. Perubahan pengelolaan tersebut harus seirama dengan tuntutan zaman. Maka merupakan hal yang logis ketika pengelola pendidikan mengambil langkah antisipatif untuk mempersiapkan diri bertahan pada zamannya. Mempertahankan diri dengan tetap mengacu pada pembenahan total mutu pendidikan berkaitan erat dengan administrasi pendidikan adalah sebuah keniscayaan.









B. RUMUSAN MASALAH

Dalam makalah ini akan dibahas tentang :

1. Pengertian Administrasi Pendidikan ?

2. Peran Administrasi Pendidikan dalam Dunia pendidikan?

C. PEMBAHASAN

1. Pengertian Administrasi Pendidikan

Istilah administrasi berasal dari bahasa latin yaitu Ad dan ministrate yang artinya pemberian jasa atau bantuan, yang dalam bahasa Inggris disebut Administration artinya To Serve, yaitu melayani dengan sebaik-baiknya.

Pengertian administrasi dapat dibedakan menjadi 2 pengertian yaitu :

a. Administrasi dalam arti sempit.

Menurut Soewarno Handayaningrat mengatakan “Administrasi secara sempit berasal dari kata Administratie (bahasa Belanda) yaitu meliputi kegiatan cata-mencatat, surat-menyurat, pembukuan ringan, keti-mengetik, agenda dan sebagainya yang bersifat teknis ketatausahaan”(1988:2). Dari definisi tersebut dapat disimpulkan administrasi dalam arti sempit merupakan kegiatan ketatausahaan yang mliputi kegiatan cata-mencatat, surat-menyurat, pembukuan dan pengarsipan surat serta hal-hal lainnya yang dimaksudkan untuk menyediakan informasi serta mempermudah memperoleh informasi kembali jika dibutuhkan.

b. Administrasi dalam arti luas.

Menurut The Liang Gie mengatakan Administrasi secara luas adalah serangkaian kegiatan yang dilakukan oleh sekelompok orang dalam suatu kerjasama untuk mencapai tujuan tertentu”(1980:9). Administrasi secara luas dapat disimpulkan pada dasarnya semua mengandung unsur pokok yang sama yaitu adanya kegiatan tertentu, adanya manusia yang melakukan kerjasama serta mencapai tujuan yang telah ditentukan sebelumnya.

Sedangkan pengertian dari administrasi pendidikan adalah segenap proses pengarahan dan pengintegrasian segala sesuatu, baik personal, spiritual maupun material yang bersangkut paut dengan pencapaian tujuan pendidikan.

Berdasarkan uraian dan definisi tersebut maka dapat diambil kesimpulan bahwa administrasi pndidikan adalah seluruh kegiatan yang dilakukan melalui kerjasama dalam suatu organisasi berdasarkan rencana yang telah ditetapkan untuk mencapai tujuan pendidikan.

2. Peran administrasi dalam dunia pendidikan.

Administrasi pendidikan meliputi kegiatan-kegiatan yang berhubungan dengan pengelolaan pendidikan di suatu negara.

Sedangkan administrasi sekolah kegiatan-kegiatannya terbatas pada pelaksanaan pengelolaan pendidikan di sekolah sehingga kita mengenal adanya administrasi Sekolah Dasar, Lanjutan, Perguruan Tinggi dan sebagainya, diantaranya kepemimpinan Kepala Sekolah, Supervisi dan sebagainya. Didalam administrasi terdapat beberapa unsur pokok, diantaranya: Adanya sekelompok manusia (sedikitnya dua orang), Adanya tujuan yang hendak di capai bersama, Adanya tugas atau fungsi yang harus dilaksanakan, dan Adanya perlengkapan dan peralatan.

Administrasi pendidikan adalah proses keseluruhan kegiatan bersama dalam bidang pendidikan yang meliputi perencanaan, pengorganisasian, pengarahan, pelaporan, pengkoordinasian, pengawasan dan pembiayaan, dengan menggunakan atau memanfaatkan fasilitas yang tersedia, baik personil, materiil, maupun spirituil untuk mencapai tujuan pendidikan secara efektif dan efisien.Jadi, dengan lebih memperhatikan aspek administrasi pendidikan maka diharapkan tujuan pendidikan atau target program pendidikan dapat tercapai secara efektif dan efisien. Administrasi pendidikan yang juga sering disebut dengan manajemen pendidikan yang sangat diperlukan untuk menjamin supaya seluruh kegiatan pendidikan dapat terlaksana dengan optimal.Administrasi pendidikan memiliki fungsi sebagai berikut, : Perencanaan (Planning), Pengorganisasian (Organizing), Pengoordinasian (Coordinating), Komunikasi, Supervisi, Kepegawaian (Staffing), Pembiayaan (Budgeting), Penilaian (Evaluating).

Dalam administrasi pendidikan terkandung unsur-unsur, yaitu 1) Tujuan yang akan dicapai, 2) Adanya proses kegiatan bersama, 3) Adanya pemanfaatan sumber daya, 4) Adanya kegiatan perencanaan, pengorganisasian, penggerakan, pengawasan terhadap sumber daya yang ada.Dengan melihat kepada unsur–unsur pokok dalam administrasi seperti telah di kemukakan terdahulu, jelas bahwa bidang–bidang yang tercakup di dalam proses kegiatan administrasi pendidikan itu luas.Secara terperinci bidang administrasi pendidikan adalah sebagai berikut :

1. Administrasi tata laksana sekolah, meliputi :

- Organisasi dan struktur pegawai tata usaha,

- Organisasi dan anggaran belanja keuangan sekolah, Masalah kepegawaian, Masalah perlengkapan dan perbekalan, Keuangan dan pembukuan,

- Korespondensi / surat–menyurat,

- Laporan–laporan (bulanan, kuartalan, dan tahunan), Masalah pemangkatan, pemindahan, penempatan, dan pemberhentian pegawai,

- Pengisian buku pokok, klapper, raport, dan sebagainya.

2. Administrasi Murid, meliputi:

- Organisasi dan perkumpulan murid

- Masalah kesehatan dan kesejahteraan murid

- Penilaian dan pengukuran kemajuan murid

- Bimbingan dan penyuluhan bagi murid

3. Supervisi pengajaran, meliputi:

- Usaha membangkitkan semangat guru dan pegawai

- Usaha mengembangkan, mencari dan menggunakan metode pengajaran yang baru

- Usaha mengembangakan kerja sama antara guru, murid,dan pegawai

- Mengusahakan cara-cara menilai hasil pendidikan

- Usaha mempertinggi mutu dan pengalaman guru-guru

- Pelaksanaan dan Pembinaan Kurikulum, meliputi:

- Mempedomani dan merealisasikan apa yang tercantum dalam kurikulum sekolah yang bersangkutan

- Menyusun dan melaksanakan organisasi kurikulum

- Kurikulum bukanlah sesuatu yang harus di ikuti begitu saja tanpa perubahan

- Pendidikan dan perencanaan bangunan sekolah, meliputi:

4. Cara memilih letak dan menentukan luas tanah yang di butuhkan

- Mengusahakan, merencanakan dan menggunakan biaya pendirian sekolah

- Menentukan jumlah ruang dan luasnya

- Cara-cara penggunaan gedung dan fasilitas sekolah

- Alat-alat perlengkapan

- Kondisi masyarakat sekitar sekolah

Administrasi dalam pendidikan yang tertib dan teratur, sangat diperlukan untuk meningkatkan kemampuan pengelolaan pendidikan bagi Kepala Sekolah dan Guru. Peningkatan kemampuan tersebut akan berakibat positif, yaitu makin meningkatnya efisiensi, mutu dan perluasan pada kinerja di dunia pendidikan tersebut. Untuk memperlancar kegiatan di atas agar lebih efektif dan efisien perlu informasi yang memadai. Sistem informasi di dunia pendidikan ini menyangkut dua hal pokok yaitu kegiatan pencatatan data(recording system) dan pelaporan (reporting system).

Administrasi suatu lembaga pendidikan merupakan suatu sumber utama manajemen dalam mengatur proses belajar mengajar dengan tertib sehingga tercapainya suatu tujuan terpenting pada lembaga pendidikan tersebut. Yang sangat diperlukan oleh para pelaku pendidikan untuk melakukan tugas dan profesinya. Kepala Sekolah dan guru disekolah sangat memerlukan data-data tentang siswa, kurikulum, sarana dan sebagainya untuk pengelolaan sekolah sehari-hari. Pengawas pendidikan di semua tingkat memerlukan data-data tersebut sebagai bahan sarana supervisi. Untuk tingkat yang lebih tinggi misalnya Dinas Pendidikan mulai tingkat kecamatan sampai propinsi memerlukan data untuk pelaporan yang lebih tinggi, untuk melakukan pembinaan, serta untuk menyusun rencana atau program pendidikan pada masa mendatang. Di tingkat pusat (nasional) data pendidikan diperlukan untuk perencanaan yang lebih makro, melakukan pembinaan, pengawasan, penilaian (evaluasi), dan keperluan administrasi lainnya.

Data pendidikan yang terdapat disekolah sangat banyak macam dan jenisnya. Ada yang bersifat relatif tetap dan ada yang selalu berubah. Untuk mendapatkan gambaran perubahan data dari waktu ke waktu, perlu dilakukan pencatatan yang teratur dan berkelanjutan dengan menggunakan sistem yang baku dalam satu sistem. Agar pencatatan data lebih akurat dan benar sesuai yang diharapkan tenaga administrasi yang terampil dan mengetahui apa yang menjadi tugasnya.Di lembaga pendidikan tingkat menengah hampir sebagian besar belum ada tenaga administrasi sesuai yang diharapkan. Kepala Sekolah sebagai administrator di lingkungan sekolah yang dipimpinnya, dalam melaksanakan tugas administrasi dibantu oleh guru dengan cara membagi tugas administrasi mereka. Agar dalam melaksanakan tugas administrasi dan pelaporan, cepat dan benar diperlukan pedoman administrasi di tingkat sekolah.

Jadi administrasi pendidikan sangat mempunyai peran yang sangat vital dalam pengembangan dan kemajuan dalam dunia pendidikan sehingga arah untuk merealisasikan suatu prestasi sangatlah mudah tercapai.



D. SIMPULAN

Berdasarkan uraian dan definisi diatas maka dapat diambil kesimpulan bahwa administrasi pndidikan adalah seluruh kegiatan yang dilakukan melalui kerjasama dalam suatu organisasi berdasarkan rencana yang telah ditetapkan untuk mencapai tujuan pendidikan.

Sedangkan Administrasi pendidikan memiliki peran sebagai berikut, : Perencanaan (Planning), Pengorganisasian (Organizing), Pengoordinasian (Coordinating), Komunikasi, Supervisi, Kepegawaian (Staffing), Pembiayaan (Budgeting), Penilaian (Evaluating).


DAFTAR PUSTAKA

Purwanto, N. 1997. Administrasi dan supervisi pendidikam. Malang: PT. Remaja rosdakarya

Soepardi, I. 1988. Dasar-Dasar Administrasi Pendidikan. Jakarta: FKIP Universitas Jember

Mulyono. 2008. Manajemen Administrasi dan Organisasi Pendidikan. Jogjakarta: Ar-Ruzz

Subroto, Suryo. 1988. Dimensi-Dimensi Administrasi Pendidikan di Sekolah. Jakarta: Bina Aksara

http://gurulia.wordpress.com/2009/04/08/definisipengertian-administrasi/






READ MORE - PERAN ADMINISTRASI PENDIDIKAN DALAM DUNIA PENDIDIKAN

MEDIA AUDIO UNTUK PEMBELAJARAN

MEDIA AUDIO UNTUK PEMBELAJARAN

A. PENDAHULUAN

Pembelajaran merupakan proses belajar mengajar yang dilakukan untuk mencapai tujuan tertentu. Yaitu tujuan akhir agar siswa memperoleh kedewasaan. Kedewasaan yang seperti apakah? Hal tersebut terkait dengan materi dan pesan yang disampaikan oleh Sang Guru. Sehingga guru sangat memegang peran besar untuk mencapai keberhasilan anak didik. Seorang guru dalam melaksanakan kompetensi pendidikan dituntut untuk memiliki kemampuan secara metodologis dalam hal perancangan dan pelaksanaan pembelajaran. Termasuk di dalamnya penguasaan, pemanfaatan dan penciptaan media pembelajaran yang sesuai. Karena penggunaan media pembelajaran disadari akan sangat membantu aktivitas pembelajaran, baik di dalam maupun di luar kelas.

Segala sesuatu yang dapat digunakan untuk menyalurkan pesan atau bahan pembelajaran harus disesuaikan dengan kebutuhan siswa, sehingga dapat merangsang perhatian, minat, fikiran dan perasaan siswa dalam kegiatan belajar.

Ada berbagai macam media pembelajaran, meliputi media visual, media audio, media audio visual, dan media computer yang masing-masing memiliki karakteristik berbeda. Media visual berkaitan dengan aspek penglihatan. Media audio berhubungan dengan aspek pendengaran yang mampu menghasilkan daya imajinasi siswa. Lantas apa itu media audio? Bagaimana karakteristiknya? Apa saja contoh-contoh media audio? Bagaimana cara pengembangannya? Selengkapnya akan kami bahas dalam makalah ini.



B. PERMASALAHAN

Dalam makalah ini akan membahas permasalahan sebagai berikut:

1. Apa pengertian media audio?

2. Bagaimana karakteristik media audio?

3. Apa saja contoh media audio?

4. Bagaimana cara pengembangan media audio?





C. PEMBAHASAN

1. Pengertian Media Audio

Menurut Sadiman, Media audio adalah media untuk menyampaikan pesan yang akan disampaikan dalam bentuk lambang – lambang auditif, baik verbal (ke dalam kata–kata atau bahasa lisan) maupun non verbal.[1]

Menurut Rudi Susilana dan Cepi Riyana media audio adalah media yang penyampaian pesannya hanya dapat diterima oleh indra pendengaran. Pesan atau informasi yang akan disampaikan dituangkan ke dalam lambang-lambang auditif yang berupa kata-kata, musik, dan sound effect.[2]

Sedangkan menurut Sudjana dan Rivai media audio untuk pengajaran adalah bahan yang mengandung pesan dalam bentuk auditif (pita suara, atau piringan suara), yang dapat merangsang pikiran, perasaan, perhatian, dan kemauan siswa sehingga terjadi proses belajar mengajar.[3]

Berdasarkan pendapat di atas dapat kami simpulkan bahwa Media audio adalah media yang digunakan untuk menyampaikan pesan verbal maupun non verbal, dimana fokus pada aspek pendengaran sebagai penangkap informasi. Kegiatannya meliputi beberapa unsur. Diantaranya:

1. Mendengarkan: merupakan proses fisiologis otomatik penerimaan rangsangan pendengaran.

2. Memperhatikan: memusatkan kesadaran kita pada rangsangan khusus tertentu.

3. Memahami: sebagai proses pemberian makna pada kata yang kita dengar.

4. Mengingat: menyimpan informasi untuk diperoleh kembali.

Media audio disamping dapat menarik dan memotivasi siswa untuk mempelajari materi lebih banyak, juga dapat digunakan untuk:

a. Mengembangkan keterampilan mendengar dan mengevaluasi apa yang telah didengar.

b. Mengatur dan mempersiapkan diskusi atau debat dengan mengungkapkan pendapat-pendapat para ahli yang berada jauh dari lokasi.

c. Menjadikan model yang akan ditiru oleh siswa.

d. Menyiapkan variasi yang menarik dan perubahan-perubahan tingkat kecepatan belajar mengenai suatu pokok bahasan atau sesuatu masalah.[4]

Media ini dapat membantu siswa agar dapat berfikir dengan baik, menumbuhkan daya ingat serta mempertajam pendengaran. Pemanfaatan fungsi media audio dalam pengajaran terutama digunakan untuk:

1.Pengajaran musik literaty dan kegiatan dokumentasi.

2.Pengajaran bahasa asing

3.Pengajaran melalui radio

4.Paket-paket belajar untuk berbagai jenis materi, yang memungkinkan siswa dapat melatih daya penafsirannya dalam suatu bidang studi.
Keterampilan yang dapat dicapai dengan penggunaan media audio meliputi:

a. pemusatan perhatian dan mempertahankan perhatian

b. mengikuti pengarahan

c. melatih daya analisis

d. menentukan arti dan konteks

e. memilah-milah informasi atau gagasan yang relevan

f. merangkum, mengemukakan, dan mengingat kembali informasi.[5]

2. Karakteristik Media Audio

Ciri utama dari media ini adalah pesan yang disalurkan melalui media audio dituangkan dalam lambang-lambang auditif, baik verbal maupun non verbal. Bersifat fleksibel, portable, dan relatif terjangkau. Media audio memiliki kelebihan dan kekurangan, adapun kelebihannya sebagai berikut:

a. Mampu mengatasi keterbatasan ruang dan waktu dan memungkinkan menjangkau sasaran luas.

b. Mampu membangkitkan sistem dalam imajinasi.

c. Mampu memusatkan perhatian siswa pada penggunaan kata-kata, bunyi, dan arti dari kata itu.

d. Mampu mempengaruhi suasana dan perilaku siswa melalui musik latar dan efek suara.

e. Sangat tepat dan cocok untuk mengajarkan musik dan bahasa.

f. Harga relatif lebih murah dan sifatnya mudah untuk dipindahkan.

g. Dapat menyajikan laporan seketika, karena biasanya siaran – siaran yang aktual itu dapat memberikan kesegaran pada sebagian besar topik.
Adapun kelemahannya: secara umum komunikasinya hanya satu arah (one way comunication), menuntut perhatian penuh karena bersifat abstrak, memerlukan kemampuan dan ketrampilan khusus untuk pemanfaatannya.

Program audio mempunyai hubungan dengan tujuan pembelajaran kognitif, psikomotorik dan afektif.

a. Tujuan kognitif, audio dapat digunakan untuk mengajar pengenalan kembali dan pembedaan rangsang audio yang relevan.

b. Tujuan psikomotor, program audio dapat digunakan untuk mengajar keterampilan verbal.

c. Tujuan afektif, suara mungkin dapat diciptakan oleh musik latar, efek suara, suara narator.[6]



3. Contoh Media Audio

Setelah mempelajari pengertian media audio, karakteristik media audio, berikut ini kami uraikan contoh-contoh media audio untuk pembelajaran.

a. Phonograph (Gramaphone)

Alat rekam ini menggunakan cakram datar yang disebut gramafon (gramaphone), yang kemudian dikenal dengan nama piringan hitam (record). Sudah ada sejak tahun 1948 dan berkembang di Indonesia. Piringan hitam ini, mampu merekam berbagai macam suara mulai dari ucapan kata-kata, suara badai, kicau burung, music simponi,dll. Cara kerja piringan hitam sama saja disemua alat pemutarnya, dengan menggunakan stylus, yang berbentuk seperti jarum yang berada di pinggiran piringan hitam. Stylus itu berfungsi untuk mencatat simpangan gelombangsuara yang direkam di piringan hitam dan kemudian meneruskannya ke alat pengeras suara.

Alat ini cocok digunakan untuk music, drama, puisi, dongeng, tutur cerita dan sebagainya Kelebihannya: piringan hitam tidak mudah rusak dan suara yang direkam bagus. Selama platnya tidak baret-baret, sebuah piringan hitam tidak akan bermasalah, di era modern ini piringan hitam menjadi barang antik yang mahal. Kekurangannya: dari segi fisik, piringan hitam besar dan agak berat, beratnya kira-kira 90-200 gram, tidak praktis untuk dibawa kemana-mana.[7]



b. Compact Disk (CD)

Inovasi secara revolusioner di dunia audio rekam terjadi pada tahun 1979, yakni lahirnya compact disc (CD) sebagai hasil percampuran computer dan tenaga laser. Compact Disc atau cakram padat adalah sebuah piringan optical yang digunakan untuk menyimpan data secara digital. Teknologi cakram padat kemudian diadopsi untuk digunakan sebagai alat penyimpan data yang dikenal sebagai CD-ROM.

Keunggulan CD adalah bentuknya yang sangat simpel dan ringkas, kualitas suaranya yang jernih, kemampuan merekam yang hebat, dapat merekam hingga lebih dari 700 mega byte, selain itu perawatannya juga mudah. Prinsip dasar perawatannya sama seperti piringan hitam, selama tidak baret-baret CD itu akan baik-baik saja. CD juga dapat tahan dalam penggunaan berulang, dan Mutu suara dapat diperbaiki karena musik direkam secara digital. Data dari CD dapat dipindahkan ke media lain seperti computer kemudian dipindahkan ke Ipod.

Kekurangannya: permukaan CD lebih mudah tergores jika tidak hati-hati. Dan kalau sudah tergores optikal unitnya tidak bisa membaca CD, sehingga kerjanya tidak optimal.

c. Alat perekam pita magnetik

Alat perekam pita magnetik atau kaset tape recorder adalah media yang menyajikan pesannya melalui proses perekaman kaset audio. Tidak seperti radio yang menggunakan gelombang elektromagnetik sebagai alat pemancarnya.

Kelebihan alat perekam pita magnetik:

1. Mempunyai fungsi ganda yang efektif

2. Pita rekaman dapat diputar berulang-ulang tanpa mempengaruhi volume.

3. Rekaman dapat dihapus secara otomatis dan pitanya bisa dipakai lagi.

4. Pita rekaman dapat dipakai sesuai jadwal yang ada.

5. Dapat menyajikan kegiatan-kegiatan di luar sekolah.

6. Rekaman dapat digandakan untuk keperluan perorangan.

7. Dapat menimbulkan beberapa kegiatan, diskusi, dramatisasi dan lain-lain.

8. Dapat memberikan efisiensi dalam pengajaran bahasa.

9. Pengoperasian tape recorder relatif mudah.

Kelemahan alat perekam pita magnetik:

1. Daya jangkauannya terbatas

2. Biaya penggandaan alatnya relatif lebih mahal dibanding radio

3. Pita kaset suara memiliki kekuatan terbatas.

d. Radio

Radio adalah media audio yang penyampaian pesannya dilakukan melalui pancaran gelombang elektromagnetik dari suatu pemancar. Penyiar secara langsung dapat mengkomunikasikan pesan atau informasi melalui microfon yang kemudian diolah dan dipancarkan ke segenap penjuru melalui gelombang elektromagnetik tersebut.

Kelebihan Media Radio:

1. Jangkauannya sangat luas

2. Harganya relatif terjangkau dan mudah didapat

3. Memiliki variasi program cukup banyak

4. Jika didengarkan sendirian, siaran radio laksana seorang teman.

5. Bersifat mobile

6. Baik untuk mengembangkan imajinasi siswa

7. Dapat lebih memusatkan perhatian siswa terhadap kata, kalimat, atau musik, sehingga sangat cocok digunakan untuk pengajaran bahasa.

Kelemahan Media Radio:

1. Sifat komunikasinya hanya satu arah.

2. Jika siarannya monoton akan lebih cepat membosankan siswa untuk mendengarkannya.

3. Program siarannya selintas, sehingga tidak bisa diulang-ulang dan disesuaikan dengan kemampuan belajar siswa secara individual.

e. Laboratorium Bahasa

Laboratorium bahasa adalah alat untuk melatih siswa mendengar dan berbicara dalam bahasa asing dengan jalan menyajikan materi pelajaran yang disiapkan sebelumnya. Media yang dipakai adalah alat perekam.

Di laboratorium bahasa murid duduk sendiri-sendiri di dalam kotak bilik akustik dan kotak suara. Siswa mendengar suara guru yang duduk di ruang kontrol lewat headphone. Pada saat siswa menirukan ucapan guru dia juga mendengar ucapannya sendiri lewat headphone, sehingga dia bisa membandingkan ucapannya dengan ucapan guru. Dengan demikian ia bisa memperbaiki kesalahan-kesalahan yang dibuatnya.

Kelebihan media ini lebih canggih. Kekurangannya terletak pada keterbatasan dari segi peralatan, perawatan dan pengadaan media ini karena relatif lebih mahal. Laboratorium bahasa digunakan tidak hanya 1 kelas saja melainkan semua siswa di sekolah, jadi harus memerlukan perawatan extra.



4. Cara Pengembangan Media Audio

Untuk dapat lebih memotivasi siswa, media audio dibuat program yang lebih menarik dari segi bahasa. Program audio menjadi lebih indah karena dapat menimbulkan daya fantasi pada para siswa. Program ini akan lebih efektif apabila bunyi dan suaranya dapat merangsang para siswa untuk dapat menggunakan daya imajinasinya. Sehingga ia dapat memvisualkan pesan-pesan yang disampaikan. Cara pengembangan media audio meliputi langkah-langkah dan teknik penggunaan media audio.

a. Langkah–langkah untuk mempersiapkan media audio sebagai berikut: Mempersiapkan diri, mempersiapkan kesiapan siswa, mendiskusikan membahas materi program audio, mendengarkan materi audio yang akan dibahas.[8]

b. Teknik penggunaan rekaman, diantaranya:

1. Kelas harus dibawa ke arah belajar mendengarkan rekaman secara aktif.

2. Guru hendaknya mengenal dan memahami rekaman tersebut.

3. Menguasai penggunaan rekaman dan cakap mempergunakan rekaman dalam belajar.

4. Kegiatan lanjutan, menyiapkan materi penting untuk disampaikan di awal atau diakhir pemutaran rekaman, hal-hal apa saja yang harus ditugaskan kepada siswa, dan lain-lain.


D. KESIMPULAN

Dari makalah di atas dapat kami simpulkan dibawah ini:

1. Media audio adalah media yang digunakan untuk menyampaikan pesan verbal maupun non verbal, dimana fokus pada aspek pendengaran sebagai penangkap informasi. Kegiatannya meliputi beberapa unsur. Diantaranya:

a. Mendengarkan: merupakan proses fisiologis otomatik penerimaan rangsangan pendengaran.

b. Memperhatikan: memusatkan kesadaran kita pada rangsangan khusus tertentu.

c. Memahami: sebagai proses pemberian makna pada kata yang kita dengar.

d. Mengingat: menyimpan informasi untuk diperoleh kembali.

2. Karakteristik Media Audio Secara umum, media audio memiliki kelebihan dan keterbatasan. Kelebihannya: fleksibel, relative murah, ringkas, mudah dibawa (portable). Sedangkan keterbatasannya: memerlukan peralatan khusus, memerlukan kemampuan/ketrampilan khusus untuk pemanfaatannya.

3. Contoh media audio untuk pembelajaran:

a. Ponograf

b. Compact Disk (CD)

c. Alat Perekam Pita Suara

d. Radio

e. Laboratorium Bahasa

4. Cara pengembangan media audio meliputi langkah-langkah dan teknik penggunaannya. Langkah–langkah untuk mempersiapkan media audio sebagai berikut: Mempersiapkan diri, mempersiapkan kesiapan siswa, mendiskusikan membahas materi program audio, mendengarkan materi audio yang akan dibahas. Teknik penggunaan rekaman, ada hal-hal yang harus diperhatikan:

a. Kelas harus dibawa ke arah belajar mendengarkan rekaman secara aktif.

b. Guru hendaknya mengenal dan memahami rekaman tersebut.

c. Menguasai penggunaan rekaman dan cakap mempergunakan rekaman dalam belajar.

d. Kegiatan lanjutan evaluasi penilaian hasil dari media audio.




1Sadiman, Media Pembelajaran, diakses melalui http://mp-bahri.blogspot.com/, hari Sabtu 14 April 2012, pkl. 15..15


[2] Rudi Susilana dan Cepi Riyana, Media Pembelajaran, (Bandung; CV Wahana Prima, 2007) hlm. 18


[3] Sudjana & Rivai, Media Audio untuk Pengajaran, http://echyli2n.blogspot.com/2009/06/media-audio.html, akses hari Sabtu, 14 April 2012, pkl. 15.20


[4] Azhar Arsyad, Media Pembelajaran, (Jakarta; Raja Grafindo Persada 2003) hlm.149.


[5] Azhar Arsyad, Op. Cit. 45.


6Modul Pemanfaatan Media Audio dan Radio untuk Pembelajaran, diunduh melalui http://www.scribd.com/zulfikri%20kamin/d/3608003-Pemanfaatan-Media-Audio-dan-Radio-Untuk-Pembelajaran.


[7]Perekam Suara, sumber http://wikipedia.com akses Jumat, 13 April 2012, pkl. 12.30


[8]
READ MORE - MEDIA AUDIO UNTUK PEMBELAJARAN

GURU SEBAGAI PENDIDIK DAN PEMBIMBING

GURU SEBAGAI PENDIDIK DAN PEMBIMBING

A. Pendahuluan

Kata guru berasal dalam bahasa Indonesia yang berarti orang yang mengajar, dalam bahasa Inggris, dijumpai kata teacher tentang artinya pengajar, selain itu juga terdapat kata tutor yang berarti guru pribadi yang mengajar di rumah, mengajar ekstra, yang memberikan les tambahan pelajaran. Etika guru itu adalah tingkah laku guru dalam mendidik anak muridnya, yang mana seorang guru harus terampil terhadap murid-murid, karena bagaimanapun juga mendidik pekerjaan yang tidak mudah, karena mendidik anak didik itu tidak semudah membalikkan telapak tangan karena guru selain memberikan yang terbaik untuk anak didiknya, seorang guru pun dalam menyikapi satu hal, adalah masalah dengan baik dalam mendidik, maka guru harus benar-benar bisa menyikapi dengan baik, karena tingkah laku adalah etika seorang guru sangat berperan sekali.

Guru selain memberikan bimbingan, arahan dan ajaran kepada anak didiknya, guru juga sebagai contoh yang baik, karena anak didik posisinya sebagai penerima bimbingan, arahan dan ajaran yang disampaikan oleh guru, karena dalam proses interaksi ini guru sebagai pelaku utama kegiatan pendidik, karena itu guru memerlukan persiapan, baik dari segi penguasaan materi, terhadap ilmu yang diajarkan kepada anak didik, seorang guru dalam menyampaikan ilmu pengetahuan tersebut secara efisien dan tepat sasaran kepada anak didik yang bervariasi dan kepribadian yang berbeda-beda dalam di kehidupannya.

B. Guru Adalah Orang Tua Profesional

Didalam pendidikan dikenal ada beberapa pendidik yang berperan aktif dalam hal membimbing anak dari agar menuju anak yang sholeh dan cerdas akademisinya serta baik kehidupan moral dan sosialnya. Dari lembaga informal dewasa ini meyakini bahwa orang tua kandung merupakan pendidik alamiah, orang tua yang dilihat dari faktor biologisnya sedangkan guru adalah orang tua professional dimana ia ada pada lembaga formal atau sekolah. Dan dalam lembaga nonformal pendidikan itu ada pada lingkungan masyarakat. John Lock menyatakan bahwa seorang anak terlahir seperti kertas putih yang belum tertulisi apapun dan lingkungan dan bimbingan yang menjadikan anak tersebut “hitam” atau “putih.

C. Guru Sebagai Pendidik dan Pembimbing

Sebagai pembimbing, guru bisa menjadi sosok yang baik dimata anak didiknya. Guru berakhlak mulia agar bisa menjadi teladan bagi anak didik serta menjadi penuntun yang baik.

Guru yang ideal dijabarkan adalah sebagai berikut :

a. Memiliki Kompetensi Kepribadian

Yaitu kemampuan personal yang mencerminkan kepribadian yang mantap, stabil, dewasa, arif, dan berwibawa, menjadi teladan bagi peserta didik, dan berakhlak mulia, dengan indikator :

· Memiliki kepribadian yang mantap dan stabil.

· Memiliki kepribadian yang dewasa.

· Memiliki kepribadian yang arif.

· Memiliki kepribadian yang berwibawa.

· Memiliki akhlak mulia dan dapat menjadi teladan.

b. Memiliki Kompetensi Pedagogik

Yaitu kemampuan yang berkenaan dengan pemahaman peserta didik dan pengelola pembelajaran yang mendidik dan dialogis, dengan indikator sebagai berikut :

· Memahami peserta didik.

· Merancang pembelajaran, termasuk memahami landasan pendidikan untuk kepentingan pembelajaran.

· Melaksanakan pembelajaran.

· Merancang dan melaksanakan evaluasi pembelajaran.

· Mengembangkan peserta didik untuk mengaktualisasikan berbagai potensi yang dimilikinya.

c. Memiliki Kompetensi Profesional

Merupakan kemampuan yang berkenaan dengan penguasaan materi pembelajaran bidang studi secara luas dan mendalam yang mencakup penguasaan substansi isi materi kurikulum mata pelajaran di sekolah dan substansi keilmuan yang menaungi materi kurikulum tersebut, serta menambah wawasan keilmuan sebagai guru. Indikatornya adalah :

· Menguasai substansi keilmuan yang terkait dengan bidang studi.

· Menguasai langkah-langkah penelitian dan kajian kritis untuk menambah wawasan dan memperdalam pengetahuan/materi bidang studi.

d. Memiliki Kompetensi Sosial

yaitu berkenaan dengan kemampuan pendidik sebagai bagian dari masyarakat untuk berkomunikasi dan bergaul secara efektif dengan peserta didik, sesama pendidik, tenaga kependidikan, orangtua/wali peserta didik, dan masyarakat sekitar, dengan indikator :

· Mampu berkomunikasi dan bergaul secara efektif dengan peserta didik.

· Mampu berkomunikasi dan bergaul secara efektif dengan sesama pendidik dan tenaga kependidikan.

· Mampu berkomunikasi dan bergaul secara efektif dengan orang tua/wali peserta didik dan masyarakat sekitar.

Dari penjabaran diatas sebagai guru mempunyai peranan yang penting dalam rangka menyiapkan generasi baru yang baik dan optimal. Secara akademisi, moral tingkah laku, serta sosial. Namun, berat peran guru bahwa mewujudkan satu persatu tersebut susah dan berat.

Guru memang merupakan komponen determinan dalam penyelenggaraan pengembangan SDM dan menempati posisi kunci dalam Sistem Pendidikan Nasional (Sisdiknas). Dampak kualitas kemampuan profesional dan kinerja guru bukan hanya akan berkontribusi terhadap kualitas lulusan yang dihasilkan (output) melainkan juga akan berlanjut pada kualitas kinerja dan jasa para lulusan tersebut (outcome) dalam pembangunan, yang pada gilirannya kemudian akan nampak pengaruhnya terhadap kualitas peradaban dan martabat hidup masyarakat, bangsa serta umat manusia pada umumnya.

Begitu strategis dan pentingnya posisi guru dalam pendidikan, maka tuntutan terhadap guru yang berkualitas dan ideal merupakan suatu keniscayaan yang tidak bisa dihindari. Persoalannya, untuk mendapatkan guru yang ideal dan berkualitas sudah barang tentu mustahil dapat terjadi dengan sendirinya, melainkan harus diupayakan penyiapan dan pengembangannya secara terus-menerus, terencana dan berkesinambungan. Upaya pengembangan itu memang merupakan suatu keharusan, mengingat tuntutan standar kualitas serta kebutuhan di lapangan juga terus-menerus mengalami perubahan dan perkembangan seiring dengan pesatnya laju perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi informasi di era global ini.

Guru merupakan titik sentral dari peningkatan kualitas pendidikan yang bertumpu pada kualitas proses belajar mengajar. Guru yang ideal tidak hanya menguasai bidang ilmu, bahan ajar, menguasai metode yang tepat, mampu memotivasi peserta didik, memiliki keterampilan yang tinggi dan wawasan yang luas terhadap dunia pendidikan. Guru yang ideal juga harus memiliki pemahaman yang mendalam tentang hakekat manusia, dan masyarakat. Hakikat-hakikat ini akan melandasi pola pikir dan pola kerja guru dan loyalitasnya kepada profesi pendidikan. Juga dalam implementasi proses belajar mengajar guru harus mampu mengembangkan budaya organisasi kelas, dan iklim organisasi pengajaran yang bermakna, kreatif dan dinamis bergairah, dialogis sehingga menyenangkan bagi peserta didik sesuai dengan tuntutan UU Sisdiknas (UU No 20 / 2003 Pasal 40 ayat 2a).

Esensi Pendidikan

Pendidikan adalah proses transfer nilai, pandangan hidup yang paling mendasar (aqidah), pemahaman-pemahaman hidup, dan berbagai pengetahuan yang menambah kesadaran peserta didik akan pandangan dan pemahamannya akan kehidupan (mafahim anil hayah) sehingga dia mampu mengambil jalan hidup yang benar, serta menambah kesadarannya tentang berbagai pemahamannya tentang benda-benda dan sarana-sarana hidup (mafahim anil asya) sehingga dia dapat meniti kehidupannya dengan benar.

Dengan demikian dalam perspektif Islam, pendidikan adalah transfer nilai-nilai Islam yang bersumber dari Al Quran dan As Sunnah, pandangan hidup Islam atau aqidah Islamiyah (keimanan), dan berbagai pengetahuan Islam (al ma’arif al Islamiyah) seperti tafsir, ulumul Qur’an, riwayat-riwayat hadits-hadits Nabi saw., ulumul hadits, fiqh, ushul fiqh, bahasa Arab, ilmu nahwu, ilmu shorof, siroh Nabi saw, dan lain-lain yang mempertebal pemahman para peserta didik sehingga tidak ada ide Islam yang lolos dari format pikirannya yang diharapkan juga menjadi pengendali tingkah lakunya. Selain itu, perlu berbagai ilmu pengetahuan dan serta ketrampilan teknologi untuk menambah kemampuan para lulusannya menjalani hidup dengan tetap berpegang kepada aqidah dan pemahaman hidupnya (mafahim anil hayah).

Diharapkan dengan proses pendidikan Islam, para peserta didik dapat ditingkatkan optimalisasi akal budinya sehingga mereka dapat mensyukuri nikmat Allah berupa pancaindera serta kalbu yang dimilikinya (lihat QS. An Nahl 78) dan tidak terjatuh ke dalam derajat yang lebih rendah dari binatang ternak. Allah SWT memperingatkan kita dengan firman-Nya:

Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk isi neraka Jahannam kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai.(QS. Al A’raf 179).

D. Kesimpulan

Bahwa sebagai pendidik dan pembimbing itu adalah harus didasari rasa kasih dan sayang. Agar anak didik nyaman dalam menjalankan tugasnya sebagai generasi muda yang menjadi tulang punggung bangsa. Dan tugas guru tidaklah ringan dalam merealisasikan hal tersebut.

E. Saran

Tujuan pendidikan Islam adalah membekali akal dengan pemikiran dan ide-ide yang sehat, baik itu mengenai aqidah dan cabang-cabangnya maupun hukum-hukum, baik yang pokok maupun yang cabang. Islam telah mendorong agar manusia menuntut ilmu dan membekalinya dengan pengetahuan. Maka, sebagai guru harus mempunyai keimanan dan ibadah yang kuat untuk mendasari apa yang sedang dijalankan, membentuk manusia yang baik semata-mata karena mengharap ridhoNya. Guru tidak hanya sebagai panutan akademisi tapi juga harus mempunyai cerminan moral dan social yang baik.


DAFTAR PUSTAKA

Dr. Soelaeman. 1985. Menjadi Guru (Suatu Pengantar kepada Dunia Guru). Bandung : CV. Diponegoro

Sumber : http://www.fathurin-zen.com

http://www.4skripsi.com/skripsi-pendidikan/etika-guru-dalam-perspektif-islam.html#ixzz1w8SM9Cc7






READ MORE - GURU SEBAGAI PENDIDIK DAN PEMBIMBING